A rainy day and you

Hari ini, langit terlihat lebih redup di banding hari-hari sebelumnya. Matahari yang mulanya menyinari bumi, kini mulai memudar dan tergantikan oleh awan abu-abu yang menggumpal di langit-langit bumi.

Daun-daun bergelayut mengudara. Dinginnya angin yang berhembus menerpa tubuh insan-insan yang tengah melakukan aktivitas di luar ruangan. Termasuk gadis yang tengah duduk sendiri di sebuah taman kota.

Sabiru.

Gadis itu terduduk manis di kursi taman kota tersebut. Seorang diri.

Sabiru menatap lamat-lamat langit yang kini sudah menghitam. Burung-burung berterbangan seolah berkata 'saatnya kembali pulang sebelum hujan tiba.'

“Sabiru.”

Suara itu memecahkan lamunan Sabiru. Ia menoleh dan mendapati seorang lelaki tinggi dan memiliki netra mata berwarna hazel. Lelaki itu tersenyum.

Lelaki yang telah sekian lama meninggalkannya dan membuat perasaan Sabiru terkurung, kini tengah berdiri di hadapannya.

Kebahagiaan beserta amarah di dalam tubuh Sabiru bercampur aduk.

Sabiru terpaku. Ia sedikit enggan untuk menatap wajah lelaki di depannya. Menunduk.

Lelaki itu menatap Sabiru.

Sabiru bangkit dari duduknya. Lelaki itu tersenyum.

“June..”

“How are you, Sabiru?”

“I'm good.”

##

10 menit berlalu, rintik-rintik air mulai berjatuhan membasahi apapun yang berada di muka bumi. Sabiru dan June bergegas mencari tempat untuk berteduh sebelum hujan menjadi semakin lebat.

Sejujurnya, Sabiru sangat tidak menyukai hujan. Disaat orang lain menyukai hujan, Sabiru tidak menyukainya. Sabiru takut akan petir dan hujan yang lebat. Tidak ada trauma dan sejenisnya yang ia alami. Sabiru memang tidak menyukai hujan, itu saja.

Petir mulai menggelegar. Detak jantung Sabiru berdegup sangat kencang. Sabiru menunduk, ia takut. Sabiru sangat tidak nyaman dengan situasi ini.

June yang melihat Sabiru tidak nyaman, mengeluarkan airpods miliknya dan memasangkan ke telinga Sabiru alih-alih supaya gadis itu tidak mendengar suara petir menyambar terlalu kencang.

Lalu, June meraih tangan Sabiru dan menggenggamnya.

“Kalau lo gak nyaman atau takut, genggam tangan gua aja, Sa.”

Sabiru tersenyum. Hatinya menghangat. June masih mengingat bahwa Sabiru sangat amat takut dengan hujan dan petir.

June Alzeroson.

Seseorang di masa lalu yang pernah menjalani hubungan tanpa status dengan Sabiru.

Sempat hilang kabar di karenakan keberadaan June yang ntah dimana, hilang bak di telan bumi secara tiba-tiba. Kini, takdir mempertemukan mereka kembali.

15 menit berlalu. Hujan mulai mereda, hanya tersisa rintik-rintik air yang berjatuhan.

“You can open your eyes now.”

Sabiru membuka matanya. Sejak 10 menit lalu, ia memejamkan matanya supaya tidak melihat petir yang menyambar yang ntah dimana tempat mendaratnya petir itu.

“Ayo ke mobil gua sebelum hujan lebih deras lagi.”

Sabiru menatap June ragu. Menoleh. June melepas jaket yang ia kenakan.

Mendekat, mengarahkan jaket yang ia lepas ke atas tubuh mungil perempuan itu, menutupi kepala dan badan Sabiru untuk melindunginya dari air hujan.

“Siap nggak mau tempur sama hujan?”

Sabiru tertawa.

“Yuk!!”

“Eh tapi lo nanti kebasahan, gimana?”

June menoleh, “Ya gapapa, sa. Gua mah udah biasa hujan hujan. Udah yuk tempur dulu.”

Sabiru mengangguk sembari tersenyum menatap June.