haechansalju

Senja mulai menyelimuti tengah kota. Suara hiruk piruk manusia terdengar, memasuki rungu Haura. Gadis itu tengah berjalan dipinggir jalanan kota.

Haura masih mengenakan seragam sekolahnya. Ia menggunakan seragam biru putih—khas anak Sekolah Menengah Pertama.

Ya, Haura berjalan-jalan setelah ia menyelesaikan sekolahnya di hari itu.

Suara langkah kaki orang berlari mendekatinya mengganggu pikiran Haura yang daritadi tengah ia gunakan untuk memikirkan nilai dari ulangan harian yang ia kerjakan tadi disekolah.

Satu tepukan mendarat dibahu Haura dan berhasil mendebarkan jantung gadis itu. Bagus, Haura terkejut karena tepukan itu.

“Haii,”

Haura menoleh dan mendapati sesosok lelaki bertubuh tinggi.

“Eh, hai Farrel.”

Farrel merangkul Haura dan berjalan beriringan dengan gadis itu.

“Apasih kamu sok asik banget!” Haura meringis.

“Sssttt, jangan berisik.”

Haura memutar bola matanya, mulutnya ia kunci rapat rapat sembari berjalan bersama Farrel.

Farrel mencubit hidung Haura. “Kenapa diem aja?”

“Aku gak mood buat ngobrol.”

“Ututut anak kecil gak mood. Kenapa kamu?”

“Gapapa. Cuma kepikiran nilai ajaa.”

“Gak apa apa, kamu udah berusaha kok. Kamu keren!!” Suara Farrel berubah menjadi bersemangat untuk menyemangati Haura.

Gadis itu tersenyum, matanya menghilang karena senyuman yang ia ukir di wajahnya.

“Kamu suka bintang gak, Hau?”

“Eh? Tiba-tiba banget?”

“Jawab dongg Hauraa”

“Iyaa, Farrel, aku suka bintang. Kenapa?”

Farrel melepaskan rangkulan dipundak Haura, memasukan tangannya kedalam kedua saku celananya. “Kalau bintangnya jatuh, kamu tetep suka?”

“Iya dong! Mau gimana pun juga bintang itu pernah tinggal lama di luar angkasa yang luass,” Haura menghadapkan tubuhnya menghadap Farrel. “Kita juga bisa buat permintaan dari bintang jatuh, hehe.”

“Emang kamu mau minta apa?”

“Aku nggak tau juga sebenarnya. Kamu kalau semisal liat bintang jatuh mau ada permintaan apa?”

“Aku pengen bareng-bareng sama kamu terus.”

Haura memukul lengan kiri Farrel. “Diem ah sut.”

“Tapi serius, pengen temenan yang lama banget,” Farrel menggeleng sembari tersenyum tipis. “kira kira bisa gak, ya?”

“Bisa banget dong. If we sees a star was falling, jangan lupa buat permintaan itu!!”

“Sok Inggris.”

“APASIH KAMU”

Yogyakarta, 2014

Sabiru tiba setengah jam kemudian. Di bukanya pintu mobil dengan tergesa dan memasuki pet shop sambil berlari. Napasnya memburu, matanya terlihat sembab akibat menangis di dalam mobil tadi.

Gadis itu berhenti berlari ketika melihat seorang lelaki yang tengah duduk di kursi tunggu sambil mengepalkan tangannya dan menunduk. Sabiru mematung sesaat, mendekat perlahan pada lelaki di depannya.

Gadis itu ambruk di depan lelaki yang berada di hadapannya. Dengan sigap lelaki itu merengkuh badan Sabiru dan memeluknya.

“Sky-ku, Ju..” lirih Sabiru.

“Sky kamu gapapa, Sayang. Dia baik-baik aja, operasinya udah selesai, dia gapapa, tenang ya,” ucap June sambil mengelus punggung Sabiru.

Sabiru melepaskan pelukannya. “Aku mau ketemu Sky.”

“Nggak boleh. Kata perawat-perawatnya nggak boleh sekarang.”

“Belum selesai operasinya, Babe?

“Udah. Kamu tunggu sini, bentar lagi dokternya keluar mau kasih liat sky nelen apa.”

Sabiru menghela napasnya kasar. Ia terduduk di kursi tunggu sambil meremas-remas rambutnya frustasi.

Lima menit kemudian sang Perawat datang membawa barang berwarna hitam pekat.

Sabiru mendelik, ia menatap June kebingungan.

“Plastik?”

sang Perawat mengangguk. “Iya, Kak. Kucing Kakak makan plastik.”

“Anjing.” umpat Sabiru.

“Eh?” gadis itu melihat plastik itu dengan seksama, “bentar,”

Sabiru menggerakan tangannya, mengambil plastik yang di bawa oleh perawat tadi. Reflek mengangkat tangannya karena plastik itu basah.

Dengan berani, gadis itu mengambil plastik itu dengan kedua tangannya. Melihat ada yang ganjal saat pertama kali melihat plastik itu, gadis itu pun membukanya.

Sabiru terbelak, menatap June tajam, memukul dada bidang June dengan sisa tenaganya. Ia menarik benda yang berada di dalam plastik itu dan memandanginya dengan teliti.

“Ini apa ya maksudnya?” tanya Sabiru dengan nada datar.

June hanya senyum dan terdiam, menatap Sabiru yang tengah kebingungan dengan benda yang sedang ia pegang.

“Ini cincin buat apa?”

“Tunangan.” jawab June santai

“Hah?!” Sabiru reflek menendang kaki June.

“Hehe, maafin akuu, Sayang.”

June merengkuh badan Sabiru, memeluknya dengan erat. Sabiru menangis di dalam pelukan itu.

“Aneh banget,” suara Sabiru terdengar parau akibat menangis terlalu banyak di mobil tadi, “terus Sky ku gimana?”

“Sky kamu baik-baik aja, sih. Ada di dalem.”

“Anjing kamu, Ju. Jantungku mau copot.”

“Hahaha maaf.”

June melepaskan pelukannya. Mengambil cincin yang di bawa Sabiru, memasangkannya pada jari manis Sabiru. Cincin berwarna putih itu terlihat cantik pada tuannya.

Sabiru menghela napasnya, memandangi cincin yang berada di tangannya. Tersenyum.

“Kamu..ini sebenarnya mau ngapain? Maksudku, cincin yang ada di tangan ku ini buat apa?”

“Buat ngelamar kamu, walau belum resmi, sih.”

June menarik tangan Sabiru pelan. “Aku sayang kamu.”

“Maaf aku nggak bisa seromantis orang lain waktu pacaran sama kamu. I'll try my best, so here it was.

“I love you more than anything. Aku nggak mau kamu lepas dari aku. So, this why aku mau jadiin kamu tunangan kamu.”

“You are everything I want, Babe. Aku mau kamu jadi teman hidupku sampai aku besok tua, aku mau jadi teman ngobrol kamu sampai besok tua, aku juga mau jadi seorang ayah dari anak-anak kita nanti.”

“Aku siap nerima kurangnya kamu. Kalau lebihnya kamu itu bonus, kurangnya bisa aku lengkapin. Aku pengen kita bisa saling melengkapi.”

“And I will spend my whole life to loving you.”

Sabiru menarik tangannya dari genggaman June, menutup mulutnya rapat-rapat dengan kedua tangannya. Ia tidak tau ingin menjawab apa. Satu bulir air matanya jatuh dari mata kanannya.

“Sayang, I don't know how to answer..but, thank you so much.”

Gadis itu menghapus air matanya. Tersenyum.

“Makasih karena udah ngebuat aku selalu senyum saat aku bareng-bareng sama kamu. Kamu itu terbaik pokoknya.”

June terkekeh. Senyuman mulai terukir di wajahnya.

“Sabiru, will you be my fiancee?”

Sabiru mengangguk. “Yes, I will.”

Mereka berdua berpelukan. Seisi ruangan itu bertepuk tangan sembari berteriak histeris. Suasana malam ini terasa sangat hebat bagi kedua insan itu.

Kedua insan yang saling mencintai satu sama lain akan menjadi satu. Lika-liku perjalanan hidup yang mereka alami akan menjadi saksi kisah hidup mereka sebelum menjalani kehidupan baru.

Semua ujung cerita pada akhirnya akan ada yang bahagia, dan ada pula yang akan menjadi sedih. Semuanya tergantung dengan bagaimana caramu mempertahankan itu semua.

Pada akhirnya, Sabiru dan June menjalani kehidupan mereka dengan berbahagia. Dan begitupun cerita ini selesai di tulis, mereka akan selalu berbahagia dengan kehidupan kecil mereka kelak.

June tiba di depan pintu apartmen Sabiru setelah dua pulug menit perjalanannya melampaui hujan beserta angin yang sangat kencang. Beruntung lelaki itu tidak menemui kesulitan di tengah perjalanannya.

Dengan segera, June memencet tombol bel apartmen milik Sabiru. Lelaki itu menunggu sepersekian menit hingga pintu itu di buka oleh Sabiru.

Gadis itu berdiri di depan June dengan keadaan muka terlihat sedikit pucat. June segera merengkuh badan Sabiru dan memeluknya dengan erat.

“Ini udah jam satu malem,” lirih Sabiru.

“Kalau buat kamu, aku rela di manapun dan kapanpun.”

June yang sejak tadi memeluk Sabiru, kini mengangkatnya dan menggendong Sabiru. Perempuan di gendongnya hanya diam dan menatap wajah June.

“Kamar kamu yang itu?” June menunjuk sebuah pintu berwarna cokelat dan ada tempelan sticker di dinding pintunya. Sabiru mengangguk.

June berjalan perlahan menuju kamar Sabiru dan membuka pintu itu perlahan. Semerbak aroma vanila dari dalam kamar Sabiru menusuk indra penciuman June. Lelaki itu menidurkan perempuan yang ia gendong di atas ranjang kasur.

June berjalan menuju jendela kamar Sabiru untuk menutupnya. Ia mengambil sesuatu yang bisa ia gunakan untuk mengganjal jendela itu, berjaga-jaga siapa tau jendela itu akan terbuka lagi karena angin yang kencang. Lantas ia tutup jendela itu dengan gorden yang menggantung diatas jendela.

June membalikkan badannya dan menatap Sabiru yang badannya sudah tertutup rapat dengan selimutnya. June tersenyum.

June berjalan mendekati Sabiru, berdiri di samping ranjang tidur Sabiru, mengecup pucuk kepala Sabiru dengan sepenuh hati.

“I'tll be ok, Sa.”

“Iya. Everything will be okay if you here.”

June dan Sabiru tersenyum bersamaan. Gadis itu menepuk-nepuk ranjang yang ia tiduri, seperti memberi kode bahwa ia mengatakan “Sini, aku mau peluk sampai tidur.”

June paham maksud Sabiru. Ia pun duduk di ranjang Sabiru, merebahkan badannya di atas ranjang, menghadap Sabiru.

Sabiru perlahan mendekat, memeluk June dengan erat. June mengelus kepala Sabiru, menenggelamkan badan Sabiru dalam pelukan itu.

Sabiru yang tenggelam di dalam pelukan itu pun mendusel pada dada June. Lelaki itu melirik gadis yang berada di pelukannya, terkekah.

“Katanya udah nggak takut sama hujan, ini kok takut?”

“Aku kan bilangnya nggak langsung nggak takut ih! aku masih takuuuutt, tapi gapapa. Kamu ada di sini buat peluk aku.”

June terkekeh. “If I left you, gimana?”

Sabiru memukul dada June dari dalam pelukan itu. “Ngaco kalau ngomong.” gadis itu kembali mendusel pada dada lelaki yang berada di pelukannya.

Hujan reda dua puluh menit kemudian. Sabiru sudah tertidur pulas di dalam pelukan June. Lelaki yang berada di pelukan Sabiru belum tertidur sejak tadi. Ia menjaga Sabiru, berjaga-jaga jika gadis itu membutuhkannya. Walau mata June terasa berat, ia abaikan. Lelaki itu tetap berjaga demi perempuannya tercinta.

Setelah memastikan Sabiru terlelap dan memasuki alam bawah sadarnya, lelaki itu melepaskan pelukannya.

Sebenarnya, lelaki itu ingin tidur di dalam pelukan itu bersama Sabiru. Tetapi ia tidak mau. June teringat perkataan sang bunda bahwa ia tidak boleh asal tidur berdua dengan seorang perempuan, walaupun perempuan itu adalah pacarnya sendiri, ia tetap tidak mau. Hanya berjaga-jaga, ia takut hal yang tidak sepantasnya di lakukan akan terjadi.

June membungkuk di samping ranjang Sabiru, mengecup pucuk kepala Sabiru. “Aku pulang dulu, maaf nggak bisa nemenin kamu sampai pagi. Besok kita ketemu lagi ya, Babe. I love you.

Lelaki itu meninggalkan Sabiru sendirian di kamar. Ia melirik jam dinding milik Sabiru, pukul dua malam. Lelaki itu menghela napasnya. Berjalan keluar dari apartemen Sabiru.

Sabiru dan June berjalan menuju tempat June memarkirkan sepedanya. Mereka berdua memandangi satu sama lain.

“Naik sepeda boncengan mau nggak, Sa?”

“Boleh banget! tapi aku nanti duduk dimana?”

June tidak menjawab apa apa. Lelaki itu terkejut karena Sabiru sudah menjawab dengan aku-kamu. Jantungnya berdebar.

Sabiru mengayunkan tangannya di depan muka June. “Hello??”

“Depan gimana? Nanti kamu duduknya miring.” ucap June dan di balas anggukan dari Sabiru.

June menaiki sepeda terlebih dahulu. Ia yang akan memegang kendali dan mengayuh pedal pada sepeda itu. Di turunkannya tangan kiri June dan mempersilahkan Sabiru duduk di bagian depan dengan posisi menghadap kiri. Gadis itu menoleh, menatap June, tersenyum.

“Udah si—”

“Wait,” potong Sabiru, “kamu beneran bisa bawa sepeda gini? Aku takut kita jatuh terus nyungsep.”

“Ngeremehin aku nih ceritanya?”

“Ih engga! aku cuma takut kamu bawanya asal.”

“Engga, Sayang.”

Sabiru memukul pelan dada June. Tertawa.

June mulai mengayuhkan sepeda perlahan. Melewati rimbunnya pepohonan dan sumilir angin malam yang dingin bersama perempuannya.

Malam yang awalnya mereka pikir biasa saja, kini telah berubah menjadi malam yang istimewa. Hari yang telah lama mereka berdua tunggu kini pun terjadi.

Mereka berdua menyanyi bersama di bawah terangnya sinar rembulan. Memandangi satu sama lain, tersenyum.

Oh, honey (ah) I'd walk through fire for you Just let me adore you Like it's the only thing I'll ever do Like it's the only thing I'll ever do

June menyanyikan lagu Adore You milik penyanyi Inggris bernama Harry Styles.

Sabiru menikmati suara June bernyanyi sembari menggerakan kepalanya kekanan dan kiri. Mendongak menatap bulan yang menjadi saksi kisah mereka berdua.

“June,”

June yang sedang bernyanyi spontan memberhentikan aktivitasnya. “Hm?”

“Pelan-pelan dikit boleh nggak? Perut aku ngga enak.”

“Kamu gapapa, Babe?”

Sabiru menggeleng. “Aku gapapa, paling kembung kena angin,” Sabiru tersenyum, “sekalian aku mau lebih lama berduaan sama kamu hehe.”

“Gemesnyaa.” June tersenyum. Tangan kirinya ia angkat dan mengelus kepala Sabiru.

June pun mengayuhkan sepedanya dengan pelan sambil menikmati indahnya malam bersama Sabiru. Bertawa dan canda bersama sampai tidak menyisakan celah keheningan diantara mereka berdua.

“Ju, nanti kalau udah sampai sana diem aja ya kayak nothing happened gitu.”

“Iyaa, anything for you.”

June dan Sabiru pun tiba di depan villa yang mereka tinggali untuk sementara waktu. Vani dan Keenan sedari tadi menunggu mereka berdua datang di depan villa sembari bercakap-cakap.

Fokus Vani terkunci pada Sabiru dan June yang baru saja tiba di depan villa tersebut menggunakan sepeda.

“Kalian nga—eh, Sabiru, lo dateng bulan?”

Sabiru segera mengecek celananya. Ia melihat bercak darah yang tergores pada celananya. Gadis itu menoleh menghadap June.

June yang paham akan situasi itu segera melepas jaket yang ia gunakan dan memasangkannya pada pinggang Sabiru.

Pantas saja saat di jalan tadi Sabiru merasa tidak nyaman dengan perutnya. Ternyata perempuan itu sedang datang bulan.

Sabiru mendekati Sabiru. “Kamu bawa itu nggak?” bisik June.

“Engga..” lirih Sabiru.

June menghela napasnya. Mengelus-elus kepala Sabiru.

“Kak Vani bawa roti jepang nggak?” June membesarkan suaranya

“Eh? Gue ada, tapi cuma sisa satu.”

June menoleh ke arah Sabiru. “Gapapa. Yang penting bisa buat malam ini dulu,” lelaki itu tersenyum mengarah pada Sabiru, “sana masuk.”

Malam ini, June mengayuh sepedanya dengan buru-buru. June mengarahkan sepeda itu dengan tangan kanannya dan tangan kirinya memegang senter. Kalau ada yang tanya mengapa June tidak menggunakan motor, itu karena lelaki itu memang enggan menggunakan sepeda motor.

Angin malam menabrak tubuh June, dinginnya menusuk sampai tulang lelaki itu. Bulan pada malam hari ini terlihat utuh. Ribuan bintang yang indah membentang luas di bumantara bumi.

June sudah memasuki daerah danau yang dimana saat ia melihat sekeliling tidak menemukan Sabiru.

June menyetandarkan sepedanya pada hamparan rumput yang tidak terlalu tinggi, lalu ia tarik napas panjangnya dan menghembuskannya perlahan.

June bergegas berjalan kesana kemari untuk mencari Sabiru. Saking paniknya, senter yang June bawa sampai-sampai ia tinggal di sebelah sepedanya. Lelaki itu berbalik menuju tempat ia memarkirkan sepedanya, mengambil senter yang ia bawa tadi.

Dinyalakannya senter itu, mengarahkannya pada setiap sudut kegelapan di depannya. Saat June membalikkan badannya, ia mendapati Sabiru tengah berdiri di hadapannya. Lelaki itu terbelak dan reflek membuang senter yang berada di genggaman tangannya.

“Heh. Lo Sabiru?” tanya June ragu-ragu. June takut kalau orang yang di ajaknya mengobrol ini bukanlah Sabiru sendiri, melainkan orang lain ataupun hantu yang menyamar menjadi Sabiru.

Sabiru tertawa. “Iya gue lahh siapa lagi.”

June menarik napasnya. Belum selesai lelaki itu menarik napasnya, Sabiru sudah terlebih dahulu menarik lengan June dan mengajaknya berlari menuju tepian danau.

Mereka berdua berdiri tepat sepuluh meter dari pinggiran danau, memandangi gelapnya malam yang indah karena cahaya bintang dan bulan yang bersinar terang.

Cuaca malam ini sangatlah mendukung. Buktinya tidak ada awan berwarna abu-abu gelap yang menyelimuti langit.

Sabiru memperhatikan bawahnya dan duduk diatas hamparan rumput. Gadis itu mendongak.

“Sini dong duduk sebelah gue.”

June mengangguk. Lelaki itu menuruti perintah Sabiru, duduk di sebelahnya.

Sabiru merebahkan tubuhnya. “Ahh enaknyaa.”

“Kotor baju lo, Sa.” tegas June pada Sabiru.

Sabiru menoleh. “Gue dari tadi gini, asal lo tau,” gadis itu tersenyum, “enak tau rebahan gini. Disini masih bersih, nggak kayak di kota udah banyak sampah.”

Semilir angin menggerakan dedaunan, beberapa diantaranya terbang yang ntah dimana tempat mendaratnya. Tidak ada suara apapun selain suara angin, jangkrik, dan katak.

“Lo ngapain kesini malam-malam? Bahaya, Sa. Lo tau nggak sepanik apa gua tadi? Jangan gitu ah lain kali.”

Sabiru bangkit dari tidurnya, gadis itu kini duduk tepat di samping June. Kepalanya ia sandarkan pada bahu June. Lelaki itu kini juga menyandarkan kepalanya diatas kepala Sabiru.

“Kangen bunda,” Sabiru membuang pandangannya pada langit, “bunga tulip putih tadi itu bunga kesukaan bunda. Jadi keinget bundaa, kangen juga. Alay nggak sih gue?”

June mengangkat kepalanya. Tangan kirinya ia gunakan untuk mengelus kepala Sabiru. “No. Kangen, keinget, itu semua wajar kok, Sa,” June memandangi wajah Sabiru yang tengah fokus menatap langit, “yang nggak wajar itu lo yang keluar dari sore sampai malem gini sendirian di tempat yang bahkan gue kadang lupa sama jalannya.”

Sabiru mengangkat kepalanya, menatap June, menyikut lengan lelaki itu. Tertawa bersama.

“Aduh bintangnya cantik ya, Sa? Kayak yang di sebelah gua.”

Sabiru tersenyum, ia tersipu malu dengan ucapan June barusan. Telinganya memerah.

“What the—oh my God lo lucu banget telinganya merah, hahaha.” June dengan jail menoel hidung Sabiru dan membuat telinga gadis itu semakin memerah.

June semakin gemas dengan perempuan di sebelahnya. Lelaki itu mencubit pipi Sabiru seraya senyum kegemasan.

“Ih sakit! mending lo liatin bulan sama bintang aja!”

June memberhentikan aktivitasnya dan melemparkan pandangannya pada bulan dan bintang yang terlukis diatas sana.

Sabiru mengapungkan tangannya dan menggambar di atas udara. “Ini bintangnya ngebentuk mhm... penguin!!”

June meraih tangan Sabiru dan menggambar ulang di atas udara. “Nggak, ini mirip bebek,” lelaki itu menggambar sketsa pada bintang bagian paruh bebek. “see? it's a duck, not penguin.”

“Ihh itu pinguin, coba lo liat lagi!!”

“Nggak. Itu bebek.”

Sabiru mendengus kesal. Wajahnya tertekuk, memanyunkan bibirnya. June hanya geleng-geleng melihat tingkah laku Sabiru.

“Lo mending tebak, Sa, bulan itu kenapa bisa ada kawah kawahnya.” ucap June sembari menunjuk bulan di atas.

“Diinjek astronot,” jawab Sabiru asal asalan, “kalau lo tanya kenapa, karena ya di injek.”

“Hahaha kok pinter banget sih?”

“Gue gitu loh.”

“Pinter ngasal maksudnya. Asal-asalan banget jawabnya, dasar bayi.” June menyubit hidung Sabiru.

Hening sesaat. Mereka berdua memandangi bayangan bulan pada pantulan cahaya yang berada pada air danau.

“Ju,” Sabiru memiringkan kepalanya, menatap setiap detail wajah June. “I wanna tell you something.”

June masih memfokuskan pandangannya pada pantulan bulan yang ada danau tersebut. “Something what?”

“About my feelings for...you.”

June spontan menoleh. Kedua insan itu kini memandangi satu sama lain tanpa ada celah apapun yang membuat pandangan mereka teralihkan.

Sabiru menghela napasnya. “You know I am not easy to fell in love with someone, but when I fall in love for you I feel like..wow this is first time I fell harder for someone. I don't know why, but I feel like I'm comfy beside you. The way you always been here if I need someone to talk, the way always makes me blushing and smiling, it's makes me melted if you know..”

“June, thank you for always loving me the most and always makes me feel comfy. June, I have crush on you.”

“Jujur gue ini ngga ada persiapan buat confess gini jadi maaf berantakan.”

June mendengarkan kata-kata yang di ucapkan Sabiru dengan hati sumringah. Mata June berbinar saat Sabiru mengatakan bahwa ia menyukai June. Hatinya menghangat, jantungnya berdetak kencang.

June rasa ia ingin teriak saat itu juga, tetapi ia menahannya supaya tidak teriak di depan Sabiru. Lelaki itu menggenggam tangan Sabiru.

“Sabiru, thank you for tell me your feelings to me. I don't know how to answer, intinya thank you so much.”

“Sorry in advance, can I switch lo-gua jadi aku-kamu?”

Sabiru tertawa. “Yes you can!! jangan tanya gue, langsung switch aja gapapa kali.”

“Okay, thank you.”

“So first of all I just wanna say I love you. All I know is want to having you for the rest of my life. If you ask why is you because..I love you. You're great, you're prettier, you're smart, you're hot, you're cute, you're my favorite person, my beloved one. You're the one and only. Mungkin aku bisa kali ya bikin one hundred thousand reason why I love you. Hahaha.”

“After such a long time, I see you again. Kamu tau? Semenjak aku pindah ke luar negeri waktu itu, aku selalu kepikiran kamu terus. Aku kepikiran kita bisa ketemu lagi nggak ya sama kamu? Aku udah takut banget sebenarnya. Tapi takdir sekarang udah jawab ya? Aku bisa ketemu lagi sama kamu, and I'm so glad to meet you again, sweetie.

“Sebelumnya, maaf kalau kesannya aku kayak maksa, but I always wanna be with you. Ntah itu di masa yang susah atau masa yang bahagia, aku mau bareng-bareng terus sama kamu. Kalaupun Tuhan kasih seribu rintangan supaya aku bisa dapetin kamu, aku rela banget buat ngelewatin semuanya.”

“Sa, I've been waiting for this for a long time. I'm so happy hearing that you have a crush on me. Oh God I'm gonna flying right now, with you. Hahaha.”

June mendekatkan badannya pada Sabiru, menatap dalam mata perempuan di depannya. “If I ask will you be my girlfriend, what's your answer?”

“I will answer yes. If you ask why, because I am waiting this for a long time too.”

June menghela napasnya sejenak.

“Sa, I'm sorry I can't be as romantic as other men when I express my feelings. I'm here cause I love you, and I do. Will you be my girlfriend?”

Senyuman terukir dari mulut Sabiru. Gadis itu mengangguk dengan penuh semangat. “Yes yes yes, I will!”

Cinta yang telah lama di tunggu, kini sudah datang. Jika memang takdir, itu semua akan menjadi milik kita. Hanya saja, kita jangan terlalu bergantung pada takdir, karena terkadang bergantung itu hanya akan membuat diri sendiri kecewa.

Jika engkau merasa semuanya telah jauh, lupakanlah. Ingat, kebahagiaan akan ada di depan sana. Janganlah kamu selalu menengok kebelakang, itu hanyalah membuat luka pada dirimu.

Takdir tidak akan salah. Kelak kau akan temukan orang yang tepat pada masa yang akan datang.

Sabiru dan June bergandengan menyusuri satu persatu ruangan dalam villa yang mereka tinggali untuk sementara waktu—tidak berdua, ada orang lain juga yang berada di villa itu. Mereka berdua memasuki ruangan yang luasnya lumayan besar. Suasana di villa dari kamar Sabiru terlihat begitu cantik karena langsung mengarah pada hamparan sawah yang membentang luas, tetapi kini keindahan itu sedang di rebut oleh hujan.

Angin berhembus kencang menabrak tubuh Sabiru dan June. Gumpalan awan berwarna abu-abu gelap mewarnai bumantara.

Dulu, Sabiru takut hujan. Namun sekarang semuanya perlahan berubah. Sabiru sudah tidak begitu takut dengan hujan, ia malah sering tertangkap sedang menikmati rintikan air hujan yang berjatuhan setelah hujan deras melanda.

Mereka berdua tiba di kamar. Sabiru langsung menjatuhkan dirinya pada kasur yang empuk itu, sedangkan June menutup jendela terlebih dahulu.

June berjalan perlahan, meloncat dan mendarat tepat di samping Sabiru.

“Ihh anj—untung ngga kena gue.”

Sabiru mendengus kesal. June menyentil pelan bibir Sabiru dan membuat gadis itu terkejut.

“Ngomong apa tadi? Repeat.”

“Iya ihh maaf ngga di ulang lagi, Juu.”

June menghela napasnya. Lelaki itu merengkuh badan Sabiru dan mendekapnya erat.

“Ehh JANGAN KERAS KERAS PELUKN—”

Belum selesai Sabiru mengatakan kalimat yang ingin ia ucapkan, bibirnya sudah tertutup tangan June. Sabiru memanyunkan bibirnya dan melepaskan dekapan dengan kasar.

June menarik lengan Sabiru dan membawa gadis itu kedalam dekapannya. Gadis itu terdiam. Saat June menyamankan posisinya, Sabiru ikut menyamankan posisinya juga sembari kepalanya ia gesek-gesekkan pada bahu June.

“Barusan cemberut, barusan juga manja.” June menoel hidung Sabiru dan tersenyum mengejek. Sabiru tidak menjawab apapun pada June, ia malah semakin menenggelamkan dirinya dalam pelukan itu.

“Lo kepikiran ngga?” yang tenggelam dalam pelukan itu bersuara.

“Enggak.”

“Ihh!!” Sabiru menongolkan kepalanya persis di depan kepala June.

Gadis itu menatap June dengan tatapan seriusnya. “Gini, nanti kalau semisal kita syuting terus tiba-tiba ada beruang nyamperin gimana? Secara ini kan deket sama hutan gituu. No one knows kaaann soalnya hutan juga luas.”

“Hush mulut lo jangan ngomong yang aneh-aneh. Nanti lo malah diikutin penghuni sini, Sa.”

“MANA ADA?!!” Sabiru spontan duduk, menatap tajam June, “jangan gitu lo mah!! lagian juga ngga akan mungkin diikutin kalau kita ngga jahil disini. EH, tapi gue kepikiran deeh penghuni sini tuh ada apa aja. Maksud gue, di bumi kan belum seratus persen di jelajahin. Gue takutnya di hutan ini ada markas alien. Huuu atutt.”

June menarik Sabiru kedalam dekapannya lagi. “Enggak. Lo kebanyakan nonton film.” June mengelus pucuk kepala Sabiru.

“Ih engga!!! kan ngga ada yang tau, Ju.” Sabiru mendorong June, duduk, terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu.

June menarik kembali tangan Sabiru, mendekapnya erat supaya gadis itu tidak duduk kembali.

“Apasih!! gue belum selesai mikir ta—”

June mendekap mulut Sabiru. “Kalau cerita sambil peluk gua, jangan duduk-duduk gitu.” lelaki itu mendusel-dusel di bahu Sabiru.

“Ya!!”

Sepuluh menit berlalu. Mereka berdua masih berbincang-bincang. Entahlah, topik mereka terlalu susah untuk di pecahkan dengan pembahasan ilmiah. Mungkin profesor yang terkenal sangat pintar pun tidak akan bisa memecahkan pertanyaan mereka.

“Kalau semisal gue jadi putri duyung, terus gue pengen nikah sama ikan gitu bisa nggak sih, Ju?”

“Capek gua, Sa. Pikir sendiri aja.”

“Tapi serius!! gue kepo banget, bisa ngga sih?”

“Tanya langsung aja sama putri duyungnya.”

June mulai pasrah dengen pertanyaan-pertanyaan Sabiru yang kian lama kian susah untuk di jawab. Lelaki itu memutuskan untuk menutup matanya, tidur dalam dekapan hangat itu.

Sabiru masih sibuk mengomel sendiri tanpa mengetahui June sudah tertidur pulas dalam dekapannya itu. Ketika gadis itu melemparkan pertanyaan pada June dan merasa tidak di gubris, ia mulai sadar bahwa sejak tadi ia hanya bermonolog.

Sabiru menghela napasnya. “Ih sialan udah cerita panjang-panjang malah di tinggal tidur.”

Sabiru melepaskan dekapan itu perlahan supaya tidak membangunkan June. Setelah lepas, lantas ia keluar kamar meninggalkan June tertidur di kamar itu sendiri.

CW // KISSING

June menopang badan Sabiru, berjalan menuju mobil. Badan Sabiru hangat—bisa jadi gadis itu terserang demam. Sabiru membenarkan posisinya pada kursi mobil yang sedang ia duduki. June menyalakan pendingin udara mobil dengan suhu sedang. June tidak membuka jendela mobil karena ia tahu bahwa angin malam lebih buruk daripada pendingin udara mobil dengan suhu paling dingin. Lelaki itu mengambil selimut yang berada di kursi mobil bagian belakang dan meyelimutkannya pada tubuh Sabiru.

Saat June menyalakan mesin mobilnya, Sabiru sontak menoleh kearah June. Gadis itu menatap wajah lelaki di hadapannya dengan tatapan sendunya.

“Lo lagi sakit, tidur aja, ya?”

Sabiru menggeleng. Ia ingin menemani June menyetir.

June menghela napasnya. “Nggak boleeehh, mereem,” lelaki itu menepuk pucuk kepala Sabiru dan menutup mata gadis itu, “dahh tidur pokoknya, close your eyes please, don't you dare to open your eyes ya.”

Tiga puluh menit berlalu dengan cepat. June memberhentikan mobilnya pada parkiran toserba yang masih buka—toserba ini buka dua puluh empat jam, satu satunya toserba dua puluh empat yang pernah June temui.

June melepas sabuk pengamanya lantas memegang dahi Sabiru, mengeceknya apakah masih panas atau sudah menurun. Panas Sabiru makin naik. June menghela napasnya.

“Gua turun sebentar, ya, beliin lo obat. Gua balik lagi kok kalau udah selesai belanja, sebentar ya.”

Sebelum meninggalkan mobil, June menepuk-nepuk pelan kepala Sabiru. Tersenyum.

Sabiru terbangun lima menit kemudian. Ia menoleh, tidak ada June. Sabiru membuka telepon genggamnya, ia ingin mengetahui pukul berapa sekarang. Dua puluh tiga lewat dua puluh dua menit. Tak lama, dari kejauhan, matanya menangkap June yang sedang berlari menuju mobil.

Lelaki itu membuka pintu mobilnya dan melihat Sabiru tengah tersenyum manis kearahnya bak tidak terjadi apa-apa padahal gadis itu sedang terkena demam tinggi.

“Kapan bangunnya? Udah lama? Nih minum dulu.”

June menyodorkan minuman—air putih untuk Sabiru minum. Saat Sabiru ingin mengambilnya, June terlebih dahulu membukakan tutup botol pada botol minum tersebut karena ia tahu Sabiru tidak akan kuat untuk membuka tutup botol itu pada keadaan seperti ini.

“Udah? Nih makan roti dulu, Sa.”

Sabiru menggeleng. “Mau gua suapin?” gadis itu mengangguk pelan, “dasarr manja.”

Sabiru memukul lemas lengan June. Tersenyum tipis.

Sabiru tidak menghabiskan rotinya, mungkin hanya tiga perempat bagian yang ia makan. Tetapi tidak apa, yang terpenting Sabiru masih mau makan. Setelah selesai makan roti, June menyuruh Sabiru untuk meminum obat. Awalnya Sabiru menolak, tetapi setelah terjadi tawar menawar dengan June, ia mau meminum obatnya.

“Udah ya, gue tagih janji lo besok.” ucap Sabiru dengan nada lemas.

June mengeluarkan sesuatu dari kantong plastik. Sabiru melihat lamat-lamat benda berwarna pink yang berbentuk lumba-lumba. Netra mata Sabiru terlihat berbinar melihat mainan itu. Gelembung balon.

Sabiru tidak menduga bahwa June akan membeli barang itu. Gadis itu dengan antusias membuka kemasan yang menutupi mainan tersebut.

Sabiru menoleh. “Can I play this in here?”

Anything for you, girl. Tapi hati-hati nanti kena mata lo.” June mengelus-elus kepala Sabiru.

Sabiru menuangkan sabun pada tempat yang sudah di sediakan dalam kemasan mainan tadi. Menempelkan ujung mulut lumba-lumba pada sabun yang sudah ia tuang, memencet tombol supaya puluhan gelembung balon keluar mengudara bebas di dalam mobil tersebut.

“Aw—HAHAHAHA ini lucu banget aduh aduh gemesnyaa aduh. Ini kalau gue makan, I will be okay or not?

“Use your brain, please.”

“HAHAHAH IYAA MAAF!! gue kepo sama rasanya tau,”

June hanya menggeleng melihat tingkah laku Sabiru yang sangat amat tidak bisa di tebak. Bisa-bisanya Sabiru ingin mencicipi sabun.

Sabiru sekarang mungkin sudah sedikit membaik, ia sudah tertawa lepas. Gadis itu juga sudah mulai kembali bersemangat. Tidak seperti tadi, lemas seperti sayur yang layu.

Kini, gelembung-gelembung sabun sudah memenuhi mobil. June yang sedari tadi memperhatikan Sabiru kini mulai terganggu akibat gelembung sabun itu karena menutupi wajah Sabiru.

“Sa, stop.

Sabiru menoleh, mengerutkan dahinya. Ia tidak mengerti kenapa lelaki itu menyuruhnya berhenti bermain dengan gelembung sabun. Lantas, June mengambil sisi mainan itu dengan halus.

Lelaki itu menatap dalam wajah Sabiru. Begitu pula dengan Sabiru. Tangan kiri June mengambil kesempatan untuk menempelkan ujung mulut lumba-lumba pada sabun dan memencetnya.

Puluhan atau bahkan mungkin ratusan gelembung beterbangan di dalam mobil itu. June dan Sabiru masih bertatapan satu sama lain, tidak memperhatikan gelembung-gelembung yang berlalu lalang di depannya, di sampingnya, dan di belakangnya.

June memajukan badannya sehingga hanya tersisa sedikit jarak diantara mereka berdua. Cup. June mengecup bibir Sabiru di tengah-tengah gelembung yang sedang berlalu lalang dan menabrak benda-benda di sekitarnya yang menghalangi gelembung itu untuk keluar.

“I think this was a beautiful night,”

Sabiru melirik jam yang ia pakai dan menyisakan celah watu diantara mereka berdua.

Lima..Empat..Tiga..Dua..Satu..

June dan Sabiru maju bersamaan, mengecup bibir lawan masing-masing tepat pada pukul dua belas malam. Bibir mereka masih menempel, napas mereka beradu. June melumat bibir Sabiru perlahan. Malam ini, mereka tenggelam dalam ciuman itu.

June mendekat kearah telinga Sabiru dan berbisik. “I love you, more than you've know.”

Malam ini mungkin menjadi malam yang indah bagi Sabiru dan June di banding malam-malam sebelumnya. Malam yang awalnya Sabiru pikir lama dan terburuk, kini berubah menjadi malam yang indah. Entahlah malam yang indah seperti ini akan terjadi lagi di lain waktu atau tidak. Tidak seorangpun tau apakah akan ada malam yang indah di hari-hari berikutnya.

Sabiru berjalan perlahan melewati batu nisan yang berjejer rapi di salah satu TPM kota. Sabiru memperhatikan tiap batu nisan yang berjejer, takut melewatkan apa yang sedang ia cari—dia tidak melihat semua nisan yang berjejer, hanya yang berada di dekat tempat peristirahatan terakhir seseorang yang sedang ia cari.

Pagi ini suasana belum terlalu terik. Burung-burung terbang mengudara dan menampakkan siluetnya pada tanah.

Fokus Sabiru terkunci ketika ia menemukan batu nisan berwarna abu-abu gelap bertuliskan nama seseorang yang sedari tadi ia cari.

Sekar Geisha, wafat pada tahun 2014.

Sabiru menghela napasnya, duduk di samping batu nisan yang di sekitarnya sudah tumbuh rumput yang menjulang tinggi—terakhir kali Sabiru mengunjungi pemakaman ini satu tahun yang lalu setelah film drama seriesnya meledak. Sabiru mencabut rumput-rumput yang menutupi sebagian batu nisan, menghela napasnya, mengelus batu nisan di depannya.

“Bunda..I miss you..”

Kuburan itu milik bunda Sabiru. Sudah 8 tahun sang bunda meninggalkannya. Geisha mengidap kanker darah pada saat usia Sabiru tiga belas tahun, dan meninggal pada saat usia Sabiru baru saja menginjak empat belas tahun.

Masa-masa remaja tanpa seorang ibu itu bagaikan mimpi buruk yang tiada ujungnya. Usia remaja yang seharusnya membutuhkan lebih banyak kasih sayang itu di rebut oleh kejamnya semesta.

Pada saat usia Sabiru menginjak umur lima belas tahun, sang ayah memberitahu Sabiru bahwa ia sedang berkencan dengan wanita cantik, Frischa Auraline. Seorang janda muda yang memiliki satu anak gadis bernama Kinara Amaira.

Sebenarnya, jauh dari dalam lubuk hati Sabiru, ia tidak setuju. Ia sangat tidak setuju ayahnya berkencan dengan orang lain selain ibundanya, Sekar. Tetapi ayah Sabiru tidak memedulikannya. Ia tetap berkencan dengan Frischa hingga saat yang Sabiru benci tiba. Mereka memutuskan menikah.

Sabiru pikir, pernikahan mereka tidak akan bertahan lama, ternyata, pernikahan itu berjalan lancar hingga detik ini—mungkin pernikahan mereka akan bertahan hingga menua dan rambut mereka berubah menjadi putih.

Frischa sangat cepat menyesuaikan dirinya dalam keluarga itu. Wanita itu menyayangi Sabiru seperti ia ibu kandung Sabiru.

Tidak berbeda jauh dengan Kinara, adik tiri Sabiru. Mereka berdua sangat dekat, sering bepergian bersama, canda tawa bersama, dan saling berbagi cerita. Kinara sangat sering bercerita hal-hal tentang dirinya, sehingga Sabiru sangat hafal hal-hal kecil tentang adiknya.

Waktu berjalan dengan cepat. Sabiru mulai melupakan kebencian yang ia tanam dulu pada hatinya. Ia memilih untuk membuka lembaran baru, kebahagiaan baru.

Saat Sabiru baru saja membuka lembaran baru, satu persatu masalah mulai datang kepada keluarga itu sehingga Sabiru memutuskan untuk keluar dari rumah dan tinggal sendiri di apartemen yang ia beli. Sabiru meninggalkan rumah setelah ia memasuki dunia modeling. Sejak saat itu pula, keluarga itu terasa jauh bagi Sabiru. Gadis itu merasa bahwa keluarganya juga menjauh darinya—terkecuali Frischa. Wanita paruh baya itu terkadang bercakap-cakap pada Sabiru walau hanya dengan telepon genggam.

“Bunda tau nggak? Aku kemarin denger katanya ayah nggak sayang aku. Bunda denger juga nggak dari sana?”

Satu bulir air mata Sabiru mendarat tepat di atas nisan milik bundanya.

“Ahh maaf Bun, aku tahun lalu udah janji nggak akan nangis tapi malah nangis setiap liat makam Bunda,” gadis itu menyeka air matanya, tersenyum, “aku udah senyum nih Bun, hehe, nggak nangis lagi.”

Suara angin berhembus, kendaraan yang berlalu lalang, memasuki rungu Sabiru. Gadis itu hanya menatap batu nisan yang berada di depannya sebelum ia peluk nisan itu.

“Aku kangen, Bun. Aku pengen bunda ada disini terus peluk aku kayak dulu waktu aku ngeluh capek ke Bunda. Aku pengeen cerita banyak sama Bunda, tapi kayaknya bakal berisik.”

“Bunda maaf yaa aku nggak bawa bunga kesukaan Bunda, aku buru buru kesini..”

“Ohh iya, Bunda tau nggak? Aku lagi proses syuting film loh, Bun. Dan lawan main ku itu ex crush akuu, aduh deg degan paraahhh. Kemarin dia tuh sempet confess ke aku tau, Bun. Tapi belum aku jawab hehe. Aku bingung banget, Bun. Honestly, aku masih suka sama dia, tapi aku bingung. Kalau Bunda mau tau, namanya June Alzeroson. Panggil June aja, Bun.”

Hening sesaat. Sabiru membenarkan posisinya, mengelus nisan milik bundanya. Dari ujung matanya terlihat ada seorang lelaki berdiri di luar pemakaman. Lelaki itu menggunakan celana berwarna hitam, kaos lengan panjang berwarna putih, dan topi berwarna hitam.

Sabiru lantas menoleh kearah lelaki itu.

Ya Tuhan, June kok disini?

June ternyata menguntit Sabiru dari kejauhan. Gadis itu lantas menyeka air matanya, berdiri, tersenyum, melambai pada June.

June berjalan perlahan menuju tempat Sabiru berada, menghela napasnya. Lelaki itu menatap mata Sabiru yang terlihat sembab akibat menangis.

“Lo ngapain disini?” tanya June.

Sabiru menoleh kearah nisan di sampingnya. “Kangen bunda.”

June berjongkok, meraih tangan Sabiru. “Bunda?”

Sabiru tersenyum. Ia diam, tidak membalas pertanyaan June.

“Sekar Geisha? Bunda lo?”

Sabiru mengangguk. June mendekat, mengelus pipi Sabiru, menyeka air mata Sabiru yang terjatuh, mendekapnya dengan erat.

“Maaf gua nggak tau, Sa..”

Sabiru terisak dalam pelukan itu. Sabiru merindukan sosok ibu, dan June datang di waktu yang sangat tepat. Disaat gadis itu ingin di peluk ia bisa langsung memeluk lelaki yang berada di dekapannya. Beruntung Sabiru di pertemukan dengan lelaki sebaik June. Beruntung juga Sabiru memenangkan hati lelaki itu.

Sabiru tiba di rumah sang bunda, memarkirkan mobilnya di halaman depan rumahnya. Rumah megah berwarna cream berdiri kokoh atas permukaan tanah. Pintu besar berwarna cokelat, kaca jendela berbentuk persegi panjang, dan lampu gantung pada teras rumah serasa menyambut hangat kedatangan Sabiru.

Sabiru sudah lama tidak tinggal di rumah ini. Sudah hampir empat tahun ia pergi dari rumah megah ini, bertinggal di apartemennya hingga saat ini. Sabiru meninggalkan rumah ini sejak ia berkuliah—alasannya karena kampusnya terlalu jauh dengan rumahnya.

Sabiru berjalan perlahan, menekan tombol bel rumah. Tak perlu waktu lama menunggu, seorang wanita paruh baya membukakan pintu rumah yang besar nan megah tersebut. Wanita itu tersenyum mengarah pada Sabiru, dan di balas dengan kekehan beserta senyuman kecil Sabiru.

Wanita paruh baya di hadapan Sabiru menghela napasnya, tersenyum, memeluk Sabiru dengan erat. Sabiru menahan sesaknya dalam pelukan itu, ia sangat merindukan pelukan hangat dari sang bunda.

Terakhir kali Sabiru mendapatkan pelukan hangat itu satu tahun yang lalu saat film seriesnya meledak bagai confetti popper.

Wanita paruh baya itu melepaskan pelukannya, mengelus pipi Sabiru. “Sayangg, bunda kangen kamu bangeett,”

“kamu nggak kangen bunda ya sampai nggak kesini hampir satu tahun lamanya??” lanjutnya.

“Hehe aku sibuk banget, Bun, maaf, ya. Oh iya, Bunda Frischa apa kabar??”

Frischansa Auraline. Bunda Sabiru.

“Loh, kok manggilnya masih bunda Frischa? Panggil bunda aja, sayang.”

Sabiru hanya mengangguk dan tersenyum kaku.

“Iya sayang gapapa,” Frischa menepuk pelan lengan Sabiru, “bunda paham kok.”

“Sini masuk, Bunda mau ajakin kamu masak masak,”

Dering telepon tiba-tiba berbunyi, yang asalnya dari telepon genggam milik Frischa. Sabiru melihat sekilas bahwa dering telepon itu adalah video call yang di panggil oleh ayahnya.

“Bentar ya sayang, kamu tunggu di dapur dulu aja ya, atau mulai dulu juga boleh.”

Sabiru tersenyum seraya mengangguk, berjalan menuju dapur rumahnya.

Gadis itu menyusuri dari sudut ruangan satu ke sudut ruangan lain sebelum ia pergi menuju dapur. Ia ingat-ingat semua kenangan yang pernah terjadi di setiap sudut ruangan tersebut. Kebersamaan, kebahagiaan, kekecewaan, semuanya terekam dalam dinding dinding itu—dan juga memori otak Sabiru.

Sabiru berjalan perlahan menuju dapur. Sebelum gadis itu sampai, ia melihat pintu kamar terbuka lebar dan tidak sengaja mendengarkan pembicaraan sang bunda dan ayahnya.

“Ngapain dia ke rumah kita? Katanya udah punya rumah kok masih main kesini.”

Suara lamat-lamat dari sebrang sana memasuki rungu sabiru. Suara itu adalah suara ayahnya. Sabiru perlahan mendekat pada pintu kamar itu dan menguping pembicaraan kedua orang tuanya.

“Kamu harusnya nggak gitu, dia anak kamu,” Frischa bersuara.

“Kamu sayang anak kamu nggak sih, Mas?”

“I don't know how to answer this fucking question.”

“Maass. Kalau semisal kamu nggak sayang sama Sabiru, berarti kamu numpang nama gitu sama anak kamu sendiri? Terus gunanya kamu banding-bandingin anak aku sama Sabiru apa?

“Yaa mungkin bisa di bilang gitu. Kalau buat Kinara aku sengaja biar dia bisa lebih dari si anak kecil itu.”

“Mas, jangan panggil Sabiru anak kecil gitu, lah.”

“Biarin. Dia emang kayak anak kecil semenjak nggak ada bundanya.”

“Kamu nggak seharusnya gitu sama Sabiru,” Frischa mengambil napas dalam, dan menghembuskannya, “terserah kamu lah, Mas.

“Aku lagi nggak mau debat sama kamu, Frischa.”

Sabiru menghela napas. Gadis itu terdiam sesaat setelah mendengar percakapan kedua orang tuanya. Pikirannya penuh akan pertanyaan yang menghantuinya.

Apakah itu benar ayah? Numpang nama, maksudnya? Masa' ayah beneran bilang seperti itu?

Entahlah, terlalu banyak pertanyaan yang menghantui Sabiru. Gadis itu lantas pergi menuju dapur dan mulai memasak tanpa sang Bunda. Fokusnya kini sudah tertuju kepada pertanyaan-pertanyaan yang menghantui pikirannya, bukan lagi masakannya. Sabiru sudah tidak peduli lagi rasa masakannya nanti bagaimana, biarkan saja.

10 menit berlalu. Frischa datang dari arah kamar menuju dapur. Sabiru tidak melihat Frischa yang sudah berada di hadapannya, ia tidak memecah fokusnya dan lebih memilih untuk diam dan fokus memasak dengan muka datar.

Kini, suara telepon genggam Sabiru yang berbunyi. Lantas ia ambil telepon genggam miliknya dan mengangkat telepon itu.

“Halo?”

Sabiru terdiam beberapa saat—mendengarkan percakapan dari sebrang sana.

“Gue kesana, sebentar, gue matiin dulu teleponnya.”

Sabiru mematikan teleponnya, melirik ke arah Frischa.

“Bunda, aku..mau pamit, ada kerjaan yang harus aku urus dulu hehe. Boleh nggak?”

Frischa mengangguk. “Boleh, sayang. Gih sana.”

“Iyaa, Bunda. Maaf ya nggak bisa nemenin sampai selesai.”

“Hahaha gapapa sayang, bunda paham kok, kamu kan lagi proses syuting film nih ya, jadi wajar kok,” Frischa tersenyum, “Hati-hati di jalan ya sayang.”

“Iyaa Bunda, makasih yaa. Aku pergi dulu.”

Setelah berpamitan, Sabiru lantas pergi keluar dari rumah megah itu. Meninggalkan Frischa memasak sendiri dalam dapur rumah itu.

CW // KISSING

Sabiru melangkahkan kakinya menuju tempat June berada. Langkahnya bergontai, kaki Sabiru terasa ruai. Berkali-kali suara gelegar petir memasuki rungu Sabiru hingga membuat gadis itu bergedik ngeri.

Sabiru tidak menyukai hujan dan petir.

Hal ini yang membuat Sabiru enggan menemui June pada saat itu juga. Tetapi, ntah apa yang ada di pikirannya sehingga Sabiru menyetujui untuk menemui June pada saat hujan lebat di sertai dengan suara gemuruh petir yang terdengar menggema di langit-langit bumi.

Angin berhembus menabrak tubuh Sabiru. Gadis itu berlari mencari tempat untuknya berteduh. Dapat. Sabiru mendapatkan tempat untuknya berteduh. Di tempat itu, di bangku panjang berwarna cokelat, Sabiru melihat telepon genggam milik June yang terletak begitu saja di bangku panjang itu.

Ya Tuhan, nih dia ngga takut apa ya hpnya di curi..

Sabiru menghela napasnya, melihat sekeliling. Tidak ada orang sama sekali.

“Sabiru!”

Satu teriakan itu memecah fokus Sabiru. June. Suara teriakan itu seperti suara teriakan June. Sabiru menoleh ke tempat suara itu berasal. Ia mendapati June sedang melambai padanya.

“Sini!”

Lelaki itu berteriak di bawah derasnya hujan, badannya basah terkena percikan-percikan air yang menimpa tubuhnya.

Sabiru menggeleng. Ia memilih memperhatikan lelaki itu bermain hujan di banding bermain hujan dengannya. Sabiru tidak menyukai hujan. Sebab itu ia memilih untuk memperhatikan lelaki itu dari jauh. Sabiru duduk di bangku yang berada di tempatnya berteduh.

June berlari mendekati Sabiru. Gadis itu sontak berdiri. Sabiru memiringkan kepalanya.

“Kenapa, Ju?”

June mendekatkan dirinya pada Sabiru, merengkuh badan gadis itu dan memeluknya.

Sabiru membeku di tempat. “Heh ini gue basah anjir,”

“Yaa gapapa? Tujuan gua,” June tertawa, lantas ia melepas pelukannya. Lelaki itu memasukan kedua tangannya dalam saku celananya. “taruh barang-barang penting lo di situ”

“Lo jangan gila, nanti kalau ada orang ambil gimana?”

June melihat sekeliling. “Nggak ada orang, taruh aja.”

Sabiru berdecak. Ia mengikuti perkataan June, menaruh barang-barang pentingnya di atas bangku panjang berwarna cokelat itu.

Sabiru menatap wajah lelaki yang berada di depannya. “Terus?”

June menarik lengan Sabiru, mengajaknya berlari di bawah lebatnya hujan, menuju tempat yang menurutnya cukup lapang.

“June anjir gue basah banget!”

“Ssttt,” June menutup mulut Sabiru dengan tangan kirinya. Tangan kanannya menbuat pertahanan supaya lebatnya air hujan tidak memasuki mata Sabiru dan membuat gadis itu meringis. “jangan berisik.”

“Mau lo ap–” suara petir yang menyambar pada penangkal petir terdengar sangat keras. Sabiru menutup telinganya, badan gadis itu hampir terjatuh, namun June dengan sigap menangkap Sabiru terlebih dahulu sebelum terjatuh dan mendekapnya di bawah derasnya hujan.

Badan Sabiru bergetar. Jantungnya berdegup kencang. June lantas mendekap erat tubuh Sabiru dan mengelus punggung gadis itu.

Lelaki itu menatap wajah Sabiru yang tertunduk. “It's okay, Sa. Lo nggak perlu takut sama itu semua selagi ada gue. Lo udah berani, Sa. Lebih berani dari dulu.”

Sabiru menggeleng.

“Sa, listen to me. Lo sekarang udah berani hujan-hujan, itu tandanya lo udah berani,”

“Tapi perasaan gue nggak enak, rasanya takut, gelisah. Lo harusnya paham, Ju.”

“Iyaa Sabiru, gua paham. Siniin tangan lo, genggam erat tangan gua.”

June mengulurkan tangannya kepada Sabiru. Gadis itu ragu, tetapi ia tetap membalas uluran tangan lelaki di depannya, menggenggamnya dengan erat.

“Transfer semua ketakutan lo dalam genggaman ini. Gua nggak yakin bakal work seratus persen, tapi setidaknya gua mungkin bisa ngehilangin sedikit ketakutan lo.”

“Sa, anggap petir itu kembang api. Kalau lo perhatiin, suara petir mirip sama suara kembang api yang besar itu kan?”

Sabiru mengangguk.

“Nah. Lo anggap petir itu kembang api. Kalau lo tanya kenapa lo harus anggap petir itu kembang api, itu karena ya suaranya mirip.” June dan Sabiru tertawa.

“Kembang api itu kan buatan manusia, kalau petir itu kembang api buatan Tuhan. Lo tau kan kalau kembang api yang di nyalakan orang-orang waktu tahun baru indah banget? Sama halnya dengan petir. Petir itu sebenarnya indah kok, Sa. Sama kayak kembang api. Tapi itu tergantung sudut pandang orang-orang. Kalau bagi gua ya indah-indah aja sih.”

“Dan hujan itu sebenarnya— ya Tuhan indah banget. Walau kadang bawa petaka, tapi hujan itu indah banget, Sa. Menurut gua, hujan itu karya Tuhan terindah yang pernah Tuhan ciptain. Kalau lo tanya kenapa, karena gua hari ini bisa hujan-hujan sama lo”

Sabiru menepuk lengan June. Tertawa. “Sumpah nggak nyambung!”

“Di sambung-sambungin lah,”

Sabiru memutar bola matanya, lantas terkekeh.

“June, makasihh. Makasih banyak, gue merasa sedikit lebih tenang pas ada petir ataupun hujan. Semuanya karna lo. Walau gue sempet kaget tadi tiba-tiba lo ajak main hujan-hujan, tapi gue jadi ngerasa lebih tenang. Jujur ini terkesan mendadak banget anjir tapi gapapa sih. Thank you very muchh, Ju..”

June mengangguk, tersenyum lebar hingga matanya tidak terlihat.

Sabiru dan June lantas bangkit berdiri setelah lama berjongkok. Menatap satu sama lain.

June mengulurkan tangannya. “Wanna dance with me, Miss Sabiru?”

Sabiru mengernyit, memiringkan kepalanya. Membalas uluran tangan June. “Sure, Mr. June.”

7 menit berlalu, mereka berdua masih menikmati berdansa di bawah derasnya hujan bak seorang anak kecil yang menikmati jatuhnya bulir air saat bermain hujan-hujanan.

Canda tawa dan kekehan kecil yang mereka berdua ciptakan mengisi ritme rintikan hujan yang berjatuhan membasahi bumi.

“Sabiru,” suara june memecah canda tawa mereka berdua.

“Iyaa?”

June mengambil kedua tangan Sabiru dan menggenggamnya.

“Sabiru, i don't know how to tell you about my feelings. But to be honest, i like you. I like you since we're first meet. No, maksud gua, gua udah tertarik sama lo dari awal kita ketemu waktu SMA dulu. Well, dulu kita sempet deket banget sampai nggak sadar dulu kita udah masuk fase friend with affection hahaha. Dan sejak saat itu gua suka sama lo, sukaa banget, Sa.”

Hening sesaat.

“I have crush on you, Sabiru.”

Suara gelegar petir terdengar seperti mengisi ruang hampa saat June berhenti berbicara. Lelaki itu menatap dalam wajah gadis itu, memperhatikan detail wajah milik Sabiru.

Sabiru perlahan mendekat, menatap wajah June. Berjinjit, menempelkan bibirnya pada bibir lawannya.

June memundurkan dirinya karena terkejut. Tetapi ia segera mendekatkan dirinya dengan sabiru dan membalas dengan menempelkan bibirnya kembali dengan Sabiru, menciumnya dengan ritme. Napas mereka beradu, menatap satu sama lain. Mereka berdua hanyut dalam ciuman yang mereka lakukan di bawah derasnya hujan.

Biarkan hujan kali ini menjadi saksi bagaimana June membuat sabiru merasa tenang saat lelaki itu menjelaskan tentang petir dan hujan yang indah pada gadis itu. Biarkan hujan kali ini menjadi saksi bagaimana June menyatakan perasaannya pada Sabiru.