Malam ini, June mengayuh sepedanya dengan buru-buru. June mengarahkan sepeda itu dengan tangan kanannya dan tangan kirinya memegang senter. Kalau ada yang tanya mengapa June tidak menggunakan motor, itu karena lelaki itu memang enggan menggunakan sepeda motor.
Angin malam menabrak tubuh June, dinginnya menusuk sampai tulang lelaki itu. Bulan pada malam hari ini terlihat utuh. Ribuan bintang yang indah membentang luas di bumantara bumi.
June sudah memasuki daerah danau yang dimana saat ia melihat sekeliling tidak menemukan Sabiru.
June menyetandarkan sepedanya pada hamparan rumput yang tidak terlalu tinggi, lalu ia tarik napas panjangnya dan menghembuskannya perlahan.
June bergegas berjalan kesana kemari untuk mencari Sabiru. Saking paniknya, senter yang June bawa sampai-sampai ia tinggal di sebelah sepedanya. Lelaki itu berbalik menuju tempat ia memarkirkan sepedanya, mengambil senter yang ia bawa tadi.
Dinyalakannya senter itu, mengarahkannya pada setiap sudut kegelapan di depannya. Saat June membalikkan badannya, ia mendapati Sabiru tengah berdiri di hadapannya. Lelaki itu terbelak dan reflek membuang senter yang berada di genggaman tangannya.
“Heh. Lo Sabiru?” tanya June ragu-ragu. June takut kalau orang yang di ajaknya mengobrol ini bukanlah Sabiru sendiri, melainkan orang lain ataupun hantu yang menyamar menjadi Sabiru.
Sabiru tertawa. “Iya gue lahh siapa lagi.”
June menarik napasnya. Belum selesai lelaki itu menarik napasnya, Sabiru sudah terlebih dahulu menarik lengan June dan mengajaknya berlari menuju tepian danau.
Mereka berdua berdiri tepat sepuluh meter dari pinggiran danau, memandangi gelapnya malam yang indah karena cahaya bintang dan bulan yang bersinar terang.
Cuaca malam ini sangatlah mendukung. Buktinya tidak ada awan berwarna abu-abu gelap yang menyelimuti langit.
Sabiru memperhatikan bawahnya dan duduk diatas hamparan rumput. Gadis itu mendongak.
“Sini dong duduk sebelah gue.”
June mengangguk. Lelaki itu menuruti perintah Sabiru, duduk di sebelahnya.
Sabiru merebahkan tubuhnya. “Ahh enaknyaa.”
“Kotor baju lo, Sa.” tegas June pada Sabiru.
Sabiru menoleh. “Gue dari tadi gini, asal lo tau,” gadis itu tersenyum, “enak tau rebahan gini. Disini masih bersih, nggak kayak di kota udah banyak sampah.”
Semilir angin menggerakan dedaunan, beberapa diantaranya terbang yang ntah dimana tempat mendaratnya. Tidak ada suara apapun selain suara angin, jangkrik, dan katak.
“Lo ngapain kesini malam-malam? Bahaya, Sa. Lo tau nggak sepanik apa gua tadi? Jangan gitu ah lain kali.”
Sabiru bangkit dari tidurnya, gadis itu kini duduk tepat di samping June. Kepalanya ia sandarkan pada bahu June. Lelaki itu kini juga menyandarkan kepalanya diatas kepala Sabiru.
“Kangen bunda,” Sabiru membuang pandangannya pada langit, “bunga tulip putih tadi itu bunga kesukaan bunda. Jadi keinget bundaa, kangen juga. Alay nggak sih gue?”
June mengangkat kepalanya. Tangan kirinya ia gunakan untuk mengelus kepala Sabiru. “No. Kangen, keinget, itu semua wajar kok, Sa,” June memandangi wajah Sabiru yang tengah fokus menatap langit, “yang nggak wajar itu lo yang keluar dari sore sampai malem gini sendirian di tempat yang bahkan gue kadang lupa sama jalannya.”
Sabiru mengangkat kepalanya, menatap June, menyikut lengan lelaki itu. Tertawa bersama.
“Aduh bintangnya cantik ya, Sa? Kayak yang di sebelah gua.”
Sabiru tersenyum, ia tersipu malu dengan ucapan June barusan. Telinganya memerah.
“What the—oh my God lo lucu banget telinganya merah, hahaha.” June dengan jail menoel hidung Sabiru dan membuat telinga gadis itu semakin memerah.
June semakin gemas dengan perempuan di sebelahnya. Lelaki itu mencubit pipi Sabiru seraya senyum kegemasan.
“Ih sakit! mending lo liatin bulan sama bintang aja!”
June memberhentikan aktivitasnya dan melemparkan pandangannya pada bulan dan bintang yang terlukis diatas sana.
Sabiru mengapungkan tangannya dan menggambar di atas udara. “Ini bintangnya ngebentuk mhm... penguin!!”
June meraih tangan Sabiru dan menggambar ulang di atas udara. “Nggak, ini mirip bebek,” lelaki itu menggambar sketsa pada bintang bagian paruh bebek. “see? it's a duck, not penguin.”
“Ihh itu pinguin, coba lo liat lagi!!”
“Nggak. Itu bebek.”
Sabiru mendengus kesal. Wajahnya tertekuk, memanyunkan bibirnya. June hanya geleng-geleng melihat tingkah laku Sabiru.
“Lo mending tebak, Sa, bulan itu kenapa bisa ada kawah kawahnya.” ucap June sembari menunjuk bulan di atas.
“Diinjek astronot,” jawab Sabiru asal asalan, “kalau lo tanya kenapa, karena ya di injek.”
“Hahaha kok pinter banget sih?”
“Gue gitu loh.”
“Pinter ngasal maksudnya. Asal-asalan banget jawabnya, dasar bayi.” June menyubit hidung Sabiru.
Hening sesaat. Mereka berdua memandangi bayangan bulan pada pantulan cahaya yang berada pada air danau.
“Ju,” Sabiru memiringkan kepalanya, menatap setiap detail wajah June. “I wanna tell you something.”
June masih memfokuskan pandangannya pada pantulan bulan yang ada danau tersebut. “Something what?”
“About my feelings for...you.”
June spontan menoleh. Kedua insan itu kini memandangi satu sama lain tanpa ada celah apapun yang membuat pandangan mereka teralihkan.
Sabiru menghela napasnya. “You know I am not easy to fell in love with someone, but when I fall in love for you I feel like..wow this is first time I fell harder for someone. I don't know why, but I feel like I'm comfy beside you. The way you always been here if I need someone to talk, the way always makes me blushing and smiling, it's makes me melted if you know..”
“June, thank you for always loving me the most and always makes me feel comfy. June, I have crush on you.”
“Jujur gue ini ngga ada persiapan buat confess gini jadi maaf berantakan.”
June mendengarkan kata-kata yang di ucapkan Sabiru dengan hati sumringah. Mata June berbinar saat Sabiru mengatakan bahwa ia menyukai June. Hatinya menghangat, jantungnya berdetak kencang.
June rasa ia ingin teriak saat itu juga, tetapi ia menahannya supaya tidak teriak di depan Sabiru. Lelaki itu menggenggam tangan Sabiru.
“Sabiru, thank you for tell me your feelings to me. I don't know how to answer, intinya thank you so much.”
“Sorry in advance, can I switch lo-gua jadi aku-kamu?”
Sabiru tertawa. “Yes you can!! jangan tanya gue, langsung switch aja gapapa kali.”
“Okay, thank you.”
“So first of all I just wanna say I love you. All I know is want to having you for the rest of my life. If you ask why is you because..I love you. You're great, you're prettier, you're smart, you're hot, you're cute, you're my favorite person, my beloved one. You're the one and only. Mungkin aku bisa kali ya bikin one hundred thousand reason why I love you. Hahaha.”
“After such a long time, I see you again. Kamu tau? Semenjak aku pindah ke luar negeri waktu itu, aku selalu kepikiran kamu terus. Aku kepikiran kita bisa ketemu lagi nggak ya sama kamu? Aku udah takut banget sebenarnya. Tapi takdir sekarang udah jawab ya? Aku bisa ketemu lagi sama kamu, and I'm so glad to meet you again, sweetie.
“Sebelumnya, maaf kalau kesannya aku kayak maksa, but I always wanna be with you. Ntah itu di masa yang susah atau masa yang bahagia, aku mau bareng-bareng terus sama kamu. Kalaupun Tuhan kasih seribu rintangan supaya aku bisa dapetin kamu, aku rela banget buat ngelewatin semuanya.”
“Sa, I've been waiting for this for a long time. I'm so happy hearing that you have a crush on me. Oh God I'm gonna flying right now, with you. Hahaha.”
June mendekatkan badannya pada Sabiru, menatap dalam mata perempuan di depannya. “If I ask will you be my girlfriend, what's your answer?”
“I will answer yes. If you ask why, because I am waiting this for a long time too.”
June menghela napasnya sejenak.
“Sa, I'm sorry I can't be as romantic as other men when I express my feelings. I'm here cause I love you, and I do. Will you be my girlfriend?”
Senyuman terukir dari mulut Sabiru. Gadis itu mengangguk dengan penuh semangat. “Yes yes yes, I will!”
Cinta yang telah lama di tunggu, kini sudah datang. Jika memang takdir, itu semua akan menjadi milik kita. Hanya saja, kita jangan terlalu bergantung pada takdir, karena terkadang bergantung itu hanya akan membuat diri sendiri kecewa.
Jika engkau merasa semuanya telah jauh, lupakanlah. Ingat, kebahagiaan akan ada di depan sana. Janganlah kamu selalu menengok kebelakang, itu hanyalah membuat luka pada dirimu.
Takdir tidak akan salah. Kelak kau akan temukan orang yang tepat pada masa yang akan datang.