Cuddles in the rain
Sabiru dan June bergandengan menyusuri satu persatu ruangan dalam villa yang mereka tinggali untuk sementara waktu—tidak berdua, ada orang lain juga yang berada di villa itu. Mereka berdua memasuki ruangan yang luasnya lumayan besar. Suasana di villa dari kamar Sabiru terlihat begitu cantik karena langsung mengarah pada hamparan sawah yang membentang luas, tetapi kini keindahan itu sedang di rebut oleh hujan.
Angin berhembus kencang menabrak tubuh Sabiru dan June. Gumpalan awan berwarna abu-abu gelap mewarnai bumantara.
Dulu, Sabiru takut hujan. Namun sekarang semuanya perlahan berubah. Sabiru sudah tidak begitu takut dengan hujan, ia malah sering tertangkap sedang menikmati rintikan air hujan yang berjatuhan setelah hujan deras melanda.
Mereka berdua tiba di kamar. Sabiru langsung menjatuhkan dirinya pada kasur yang empuk itu, sedangkan June menutup jendela terlebih dahulu.
June berjalan perlahan, meloncat dan mendarat tepat di samping Sabiru.
“Ihh anj—untung ngga kena gue.”
Sabiru mendengus kesal. June menyentil pelan bibir Sabiru dan membuat gadis itu terkejut.
“Ngomong apa tadi? Repeat.”
“Iya ihh maaf ngga di ulang lagi, Juu.”
June menghela napasnya. Lelaki itu merengkuh badan Sabiru dan mendekapnya erat.
“Ehh JANGAN KERAS KERAS PELUKN—”
Belum selesai Sabiru mengatakan kalimat yang ingin ia ucapkan, bibirnya sudah tertutup tangan June. Sabiru memanyunkan bibirnya dan melepaskan dekapan dengan kasar.
June menarik lengan Sabiru dan membawa gadis itu kedalam dekapannya. Gadis itu terdiam. Saat June menyamankan posisinya, Sabiru ikut menyamankan posisinya juga sembari kepalanya ia gesek-gesekkan pada bahu June.
“Barusan cemberut, barusan juga manja.” June menoel hidung Sabiru dan tersenyum mengejek. Sabiru tidak menjawab apapun pada June, ia malah semakin menenggelamkan dirinya dalam pelukan itu.
“Lo kepikiran ngga?” yang tenggelam dalam pelukan itu bersuara.
“Enggak.”
“Ihh!!” Sabiru menongolkan kepalanya persis di depan kepala June.
Gadis itu menatap June dengan tatapan seriusnya. “Gini, nanti kalau semisal kita syuting terus tiba-tiba ada beruang nyamperin gimana? Secara ini kan deket sama hutan gituu. No one knows kaaann soalnya hutan juga luas.”
“Hush mulut lo jangan ngomong yang aneh-aneh. Nanti lo malah diikutin penghuni sini, Sa.”
“MANA ADA?!!” Sabiru spontan duduk, menatap tajam June, “jangan gitu lo mah!! lagian juga ngga akan mungkin diikutin kalau kita ngga jahil disini. EH, tapi gue kepikiran deeh penghuni sini tuh ada apa aja. Maksud gue, di bumi kan belum seratus persen di jelajahin. Gue takutnya di hutan ini ada markas alien. Huuu atutt.”
June menarik Sabiru kedalam dekapannya lagi. “Enggak. Lo kebanyakan nonton film.” June mengelus pucuk kepala Sabiru.
“Ih engga!!! kan ngga ada yang tau, Ju.” Sabiru mendorong June, duduk, terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu.
June menarik kembali tangan Sabiru, mendekapnya erat supaya gadis itu tidak duduk kembali.
“Apasih!! gue belum selesai mikir ta—”
June mendekap mulut Sabiru. “Kalau cerita sambil peluk gua, jangan duduk-duduk gitu.” lelaki itu mendusel-dusel di bahu Sabiru.
“Ya!!”
Sepuluh menit berlalu. Mereka berdua masih berbincang-bincang. Entahlah, topik mereka terlalu susah untuk di pecahkan dengan pembahasan ilmiah. Mungkin profesor yang terkenal sangat pintar pun tidak akan bisa memecahkan pertanyaan mereka.
“Kalau semisal gue jadi putri duyung, terus gue pengen nikah sama ikan gitu bisa nggak sih, Ju?”
“Capek gua, Sa. Pikir sendiri aja.”
“Tapi serius!! gue kepo banget, bisa ngga sih?”
“Tanya langsung aja sama putri duyungnya.”
June mulai pasrah dengen pertanyaan-pertanyaan Sabiru yang kian lama kian susah untuk di jawab. Lelaki itu memutuskan untuk menutup matanya, tidur dalam dekapan hangat itu.
Sabiru masih sibuk mengomel sendiri tanpa mengetahui June sudah tertidur pulas dalam dekapannya itu. Ketika gadis itu melemparkan pertanyaan pada June dan merasa tidak di gubris, ia mulai sadar bahwa sejak tadi ia hanya bermonolog.
Sabiru menghela napasnya. “Ih sialan udah cerita panjang-panjang malah di tinggal tidur.”
Sabiru melepaskan dekapan itu perlahan supaya tidak membangunkan June. Setelah lepas, lantas ia keluar kamar meninggalkan June tertidur di kamar itu sendiri.