Under the moon

Sabiru dan June berjalan menuju tempat June memarkirkan sepedanya. Mereka berdua memandangi satu sama lain.

“Naik sepeda boncengan mau nggak, Sa?”

“Boleh banget! tapi aku nanti duduk dimana?”

June tidak menjawab apa apa. Lelaki itu terkejut karena Sabiru sudah menjawab dengan aku-kamu. Jantungnya berdebar.

Sabiru mengayunkan tangannya di depan muka June. “Hello??”

“Depan gimana? Nanti kamu duduknya miring.” ucap June dan di balas anggukan dari Sabiru.

June menaiki sepeda terlebih dahulu. Ia yang akan memegang kendali dan mengayuh pedal pada sepeda itu. Di turunkannya tangan kiri June dan mempersilahkan Sabiru duduk di bagian depan dengan posisi menghadap kiri. Gadis itu menoleh, menatap June, tersenyum.

“Udah si—”

“Wait,” potong Sabiru, “kamu beneran bisa bawa sepeda gini? Aku takut kita jatuh terus nyungsep.”

“Ngeremehin aku nih ceritanya?”

“Ih engga! aku cuma takut kamu bawanya asal.”

“Engga, Sayang.”

Sabiru memukul pelan dada June. Tertawa.

June mulai mengayuhkan sepeda perlahan. Melewati rimbunnya pepohonan dan sumilir angin malam yang dingin bersama perempuannya.

Malam yang awalnya mereka pikir biasa saja, kini telah berubah menjadi malam yang istimewa. Hari yang telah lama mereka berdua tunggu kini pun terjadi.

Mereka berdua menyanyi bersama di bawah terangnya sinar rembulan. Memandangi satu sama lain, tersenyum.

Oh, honey (ah) I'd walk through fire for you Just let me adore you Like it's the only thing I'll ever do Like it's the only thing I'll ever do

June menyanyikan lagu Adore You milik penyanyi Inggris bernama Harry Styles.

Sabiru menikmati suara June bernyanyi sembari menggerakan kepalanya kekanan dan kiri. Mendongak menatap bulan yang menjadi saksi kisah mereka berdua.

“June,”

June yang sedang bernyanyi spontan memberhentikan aktivitasnya. “Hm?”

“Pelan-pelan dikit boleh nggak? Perut aku ngga enak.”

“Kamu gapapa, Babe?”

Sabiru menggeleng. “Aku gapapa, paling kembung kena angin,” Sabiru tersenyum, “sekalian aku mau lebih lama berduaan sama kamu hehe.”

“Gemesnyaa.” June tersenyum. Tangan kirinya ia angkat dan mengelus kepala Sabiru.

June pun mengayuhkan sepedanya dengan pelan sambil menikmati indahnya malam bersama Sabiru. Bertawa dan canda bersama sampai tidak menyisakan celah keheningan diantara mereka berdua.

“Ju, nanti kalau udah sampai sana diem aja ya kayak nothing happened gitu.”

“Iyaa, anything for you.”

June dan Sabiru pun tiba di depan villa yang mereka tinggali untuk sementara waktu. Vani dan Keenan sedari tadi menunggu mereka berdua datang di depan villa sembari bercakap-cakap.

Fokus Vani terkunci pada Sabiru dan June yang baru saja tiba di depan villa tersebut menggunakan sepeda.

“Kalian nga—eh, Sabiru, lo dateng bulan?”

Sabiru segera mengecek celananya. Ia melihat bercak darah yang tergores pada celananya. Gadis itu menoleh menghadap June.

June yang paham akan situasi itu segera melepas jaket yang ia gunakan dan memasangkannya pada pinggang Sabiru.

Pantas saja saat di jalan tadi Sabiru merasa tidak nyaman dengan perutnya. Ternyata perempuan itu sedang datang bulan.

Sabiru mendekati Sabiru. “Kamu bawa itu nggak?” bisik June.

“Engga..” lirih Sabiru.

June menghela napasnya. Mengelus-elus kepala Sabiru.

“Kak Vani bawa roti jepang nggak?” June membesarkan suaranya

“Eh? Gue ada, tapi cuma sisa satu.”

June menoleh ke arah Sabiru. “Gapapa. Yang penting bisa buat malam ini dulu,” lelaki itu tersenyum mengarah pada Sabiru, “sana masuk.”