Everything will be okay if you here

June tiba di depan pintu apartmen Sabiru setelah dua pulug menit perjalanannya melampaui hujan beserta angin yang sangat kencang. Beruntung lelaki itu tidak menemui kesulitan di tengah perjalanannya.

Dengan segera, June memencet tombol bel apartmen milik Sabiru. Lelaki itu menunggu sepersekian menit hingga pintu itu di buka oleh Sabiru.

Gadis itu berdiri di depan June dengan keadaan muka terlihat sedikit pucat. June segera merengkuh badan Sabiru dan memeluknya dengan erat.

“Ini udah jam satu malem,” lirih Sabiru.

“Kalau buat kamu, aku rela di manapun dan kapanpun.”

June yang sejak tadi memeluk Sabiru, kini mengangkatnya dan menggendong Sabiru. Perempuan di gendongnya hanya diam dan menatap wajah June.

“Kamar kamu yang itu?” June menunjuk sebuah pintu berwarna cokelat dan ada tempelan sticker di dinding pintunya. Sabiru mengangguk.

June berjalan perlahan menuju kamar Sabiru dan membuka pintu itu perlahan. Semerbak aroma vanila dari dalam kamar Sabiru menusuk indra penciuman June. Lelaki itu menidurkan perempuan yang ia gendong di atas ranjang kasur.

June berjalan menuju jendela kamar Sabiru untuk menutupnya. Ia mengambil sesuatu yang bisa ia gunakan untuk mengganjal jendela itu, berjaga-jaga siapa tau jendela itu akan terbuka lagi karena angin yang kencang. Lantas ia tutup jendela itu dengan gorden yang menggantung diatas jendela.

June membalikkan badannya dan menatap Sabiru yang badannya sudah tertutup rapat dengan selimutnya. June tersenyum.

June berjalan mendekati Sabiru, berdiri di samping ranjang tidur Sabiru, mengecup pucuk kepala Sabiru dengan sepenuh hati.

“I'tll be ok, Sa.”

“Iya. Everything will be okay if you here.”

June dan Sabiru tersenyum bersamaan. Gadis itu menepuk-nepuk ranjang yang ia tiduri, seperti memberi kode bahwa ia mengatakan “Sini, aku mau peluk sampai tidur.”

June paham maksud Sabiru. Ia pun duduk di ranjang Sabiru, merebahkan badannya di atas ranjang, menghadap Sabiru.

Sabiru perlahan mendekat, memeluk June dengan erat. June mengelus kepala Sabiru, menenggelamkan badan Sabiru dalam pelukan itu.

Sabiru yang tenggelam di dalam pelukan itu pun mendusel pada dada June. Lelaki itu melirik gadis yang berada di pelukannya, terkekah.

“Katanya udah nggak takut sama hujan, ini kok takut?”

“Aku kan bilangnya nggak langsung nggak takut ih! aku masih takuuuutt, tapi gapapa. Kamu ada di sini buat peluk aku.”

June terkekeh. “If I left you, gimana?”

Sabiru memukul dada June dari dalam pelukan itu. “Ngaco kalau ngomong.” gadis itu kembali mendusel pada dada lelaki yang berada di pelukannya.

Hujan reda dua puluh menit kemudian. Sabiru sudah tertidur pulas di dalam pelukan June. Lelaki yang berada di pelukan Sabiru belum tertidur sejak tadi. Ia menjaga Sabiru, berjaga-jaga jika gadis itu membutuhkannya. Walau mata June terasa berat, ia abaikan. Lelaki itu tetap berjaga demi perempuannya tercinta.

Setelah memastikan Sabiru terlelap dan memasuki alam bawah sadarnya, lelaki itu melepaskan pelukannya.

Sebenarnya, lelaki itu ingin tidur di dalam pelukan itu bersama Sabiru. Tetapi ia tidak mau. June teringat perkataan sang bunda bahwa ia tidak boleh asal tidur berdua dengan seorang perempuan, walaupun perempuan itu adalah pacarnya sendiri, ia tetap tidak mau. Hanya berjaga-jaga, ia takut hal yang tidak sepantasnya di lakukan akan terjadi.

June membungkuk di samping ranjang Sabiru, mengecup pucuk kepala Sabiru. “Aku pulang dulu, maaf nggak bisa nemenin kamu sampai pagi. Besok kita ketemu lagi ya, Babe. I love you.

Lelaki itu meninggalkan Sabiru sendirian di kamar. Ia melirik jam dinding milik Sabiru, pukul dua malam. Lelaki itu menghela napasnya. Berjalan keluar dari apartemen Sabiru.