Bunda, I miss you.

Sabiru berjalan perlahan melewati batu nisan yang berjejer rapi di salah satu TPM kota. Sabiru memperhatikan tiap batu nisan yang berjejer, takut melewatkan apa yang sedang ia cari—dia tidak melihat semua nisan yang berjejer, hanya yang berada di dekat tempat peristirahatan terakhir seseorang yang sedang ia cari.

Pagi ini suasana belum terlalu terik. Burung-burung terbang mengudara dan menampakkan siluetnya pada tanah.

Fokus Sabiru terkunci ketika ia menemukan batu nisan berwarna abu-abu gelap bertuliskan nama seseorang yang sedari tadi ia cari.

Sekar Geisha, wafat pada tahun 2014.

Sabiru menghela napasnya, duduk di samping batu nisan yang di sekitarnya sudah tumbuh rumput yang menjulang tinggi—terakhir kali Sabiru mengunjungi pemakaman ini satu tahun yang lalu setelah film drama seriesnya meledak. Sabiru mencabut rumput-rumput yang menutupi sebagian batu nisan, menghela napasnya, mengelus batu nisan di depannya.

“Bunda..I miss you..”

Kuburan itu milik bunda Sabiru. Sudah 8 tahun sang bunda meninggalkannya. Geisha mengidap kanker darah pada saat usia Sabiru tiga belas tahun, dan meninggal pada saat usia Sabiru baru saja menginjak empat belas tahun.

Masa-masa remaja tanpa seorang ibu itu bagaikan mimpi buruk yang tiada ujungnya. Usia remaja yang seharusnya membutuhkan lebih banyak kasih sayang itu di rebut oleh kejamnya semesta.

Pada saat usia Sabiru menginjak umur lima belas tahun, sang ayah memberitahu Sabiru bahwa ia sedang berkencan dengan wanita cantik, Frischa Auraline. Seorang janda muda yang memiliki satu anak gadis bernama Kinara Amaira.

Sebenarnya, jauh dari dalam lubuk hati Sabiru, ia tidak setuju. Ia sangat tidak setuju ayahnya berkencan dengan orang lain selain ibundanya, Sekar. Tetapi ayah Sabiru tidak memedulikannya. Ia tetap berkencan dengan Frischa hingga saat yang Sabiru benci tiba. Mereka memutuskan menikah.

Sabiru pikir, pernikahan mereka tidak akan bertahan lama, ternyata, pernikahan itu berjalan lancar hingga detik ini—mungkin pernikahan mereka akan bertahan hingga menua dan rambut mereka berubah menjadi putih.

Frischa sangat cepat menyesuaikan dirinya dalam keluarga itu. Wanita itu menyayangi Sabiru seperti ia ibu kandung Sabiru.

Tidak berbeda jauh dengan Kinara, adik tiri Sabiru. Mereka berdua sangat dekat, sering bepergian bersama, canda tawa bersama, dan saling berbagi cerita. Kinara sangat sering bercerita hal-hal tentang dirinya, sehingga Sabiru sangat hafal hal-hal kecil tentang adiknya.

Waktu berjalan dengan cepat. Sabiru mulai melupakan kebencian yang ia tanam dulu pada hatinya. Ia memilih untuk membuka lembaran baru, kebahagiaan baru.

Saat Sabiru baru saja membuka lembaran baru, satu persatu masalah mulai datang kepada keluarga itu sehingga Sabiru memutuskan untuk keluar dari rumah dan tinggal sendiri di apartemen yang ia beli. Sabiru meninggalkan rumah setelah ia memasuki dunia modeling. Sejak saat itu pula, keluarga itu terasa jauh bagi Sabiru. Gadis itu merasa bahwa keluarganya juga menjauh darinya—terkecuali Frischa. Wanita paruh baya itu terkadang bercakap-cakap pada Sabiru walau hanya dengan telepon genggam.

“Bunda tau nggak? Aku kemarin denger katanya ayah nggak sayang aku. Bunda denger juga nggak dari sana?”

Satu bulir air mata Sabiru mendarat tepat di atas nisan milik bundanya.

“Ahh maaf Bun, aku tahun lalu udah janji nggak akan nangis tapi malah nangis setiap liat makam Bunda,” gadis itu menyeka air matanya, tersenyum, “aku udah senyum nih Bun, hehe, nggak nangis lagi.”

Suara angin berhembus, kendaraan yang berlalu lalang, memasuki rungu Sabiru. Gadis itu hanya menatap batu nisan yang berada di depannya sebelum ia peluk nisan itu.

“Aku kangen, Bun. Aku pengen bunda ada disini terus peluk aku kayak dulu waktu aku ngeluh capek ke Bunda. Aku pengeen cerita banyak sama Bunda, tapi kayaknya bakal berisik.”

“Bunda maaf yaa aku nggak bawa bunga kesukaan Bunda, aku buru buru kesini..”

“Ohh iya, Bunda tau nggak? Aku lagi proses syuting film loh, Bun. Dan lawan main ku itu ex crush akuu, aduh deg degan paraahhh. Kemarin dia tuh sempet confess ke aku tau, Bun. Tapi belum aku jawab hehe. Aku bingung banget, Bun. Honestly, aku masih suka sama dia, tapi aku bingung. Kalau Bunda mau tau, namanya June Alzeroson. Panggil June aja, Bun.”

Hening sesaat. Sabiru membenarkan posisinya, mengelus nisan milik bundanya. Dari ujung matanya terlihat ada seorang lelaki berdiri di luar pemakaman. Lelaki itu menggunakan celana berwarna hitam, kaos lengan panjang berwarna putih, dan topi berwarna hitam.

Sabiru lantas menoleh kearah lelaki itu.

Ya Tuhan, June kok disini?

June ternyata menguntit Sabiru dari kejauhan. Gadis itu lantas menyeka air matanya, berdiri, tersenyum, melambai pada June.

June berjalan perlahan menuju tempat Sabiru berada, menghela napasnya. Lelaki itu menatap mata Sabiru yang terlihat sembab akibat menangis.

“Lo ngapain disini?” tanya June.

Sabiru menoleh kearah nisan di sampingnya. “Kangen bunda.”

June berjongkok, meraih tangan Sabiru. “Bunda?”

Sabiru tersenyum. Ia diam, tidak membalas pertanyaan June.

“Sekar Geisha? Bunda lo?”

Sabiru mengangguk. June mendekat, mengelus pipi Sabiru, menyeka air mata Sabiru yang terjatuh, mendekapnya dengan erat.

“Maaf gua nggak tau, Sa..”

Sabiru terisak dalam pelukan itu. Sabiru merindukan sosok ibu, dan June datang di waktu yang sangat tepat. Disaat gadis itu ingin di peluk ia bisa langsung memeluk lelaki yang berada di dekapannya. Beruntung Sabiru di pertemukan dengan lelaki sebaik June. Beruntung juga Sabiru memenangkan hati lelaki itu.