Disappointed
Sabiru tiba di rumah sang bunda, memarkirkan mobilnya di halaman depan rumahnya. Rumah megah berwarna cream berdiri kokoh atas permukaan tanah. Pintu besar berwarna cokelat, kaca jendela berbentuk persegi panjang, dan lampu gantung pada teras rumah serasa menyambut hangat kedatangan Sabiru.
Sabiru sudah lama tidak tinggal di rumah ini. Sudah hampir empat tahun ia pergi dari rumah megah ini, bertinggal di apartemennya hingga saat ini. Sabiru meninggalkan rumah ini sejak ia berkuliah—alasannya karena kampusnya terlalu jauh dengan rumahnya.
Sabiru berjalan perlahan, menekan tombol bel rumah. Tak perlu waktu lama menunggu, seorang wanita paruh baya membukakan pintu rumah yang besar nan megah tersebut. Wanita itu tersenyum mengarah pada Sabiru, dan di balas dengan kekehan beserta senyuman kecil Sabiru.
Wanita paruh baya di hadapan Sabiru menghela napasnya, tersenyum, memeluk Sabiru dengan erat. Sabiru menahan sesaknya dalam pelukan itu, ia sangat merindukan pelukan hangat dari sang bunda.
Terakhir kali Sabiru mendapatkan pelukan hangat itu satu tahun yang lalu saat film seriesnya meledak bagai confetti popper.
Wanita paruh baya itu melepaskan pelukannya, mengelus pipi Sabiru. “Sayangg, bunda kangen kamu bangeett,”
“kamu nggak kangen bunda ya sampai nggak kesini hampir satu tahun lamanya??” lanjutnya.
“Hehe aku sibuk banget, Bun, maaf, ya. Oh iya, Bunda Frischa apa kabar??”
Frischansa Auraline. Bunda Sabiru.
“Loh, kok manggilnya masih bunda Frischa? Panggil bunda aja, sayang.”
Sabiru hanya mengangguk dan tersenyum kaku.
“Iya sayang gapapa,” Frischa menepuk pelan lengan Sabiru, “bunda paham kok.”
“Sini masuk, Bunda mau ajakin kamu masak masak,”
Dering telepon tiba-tiba berbunyi, yang asalnya dari telepon genggam milik Frischa. Sabiru melihat sekilas bahwa dering telepon itu adalah video call yang di panggil oleh ayahnya.
“Bentar ya sayang, kamu tunggu di dapur dulu aja ya, atau mulai dulu juga boleh.”
Sabiru tersenyum seraya mengangguk, berjalan menuju dapur rumahnya.
Gadis itu menyusuri dari sudut ruangan satu ke sudut ruangan lain sebelum ia pergi menuju dapur. Ia ingat-ingat semua kenangan yang pernah terjadi di setiap sudut ruangan tersebut. Kebersamaan, kebahagiaan, kekecewaan, semuanya terekam dalam dinding dinding itu—dan juga memori otak Sabiru.
Sabiru berjalan perlahan menuju dapur. Sebelum gadis itu sampai, ia melihat pintu kamar terbuka lebar dan tidak sengaja mendengarkan pembicaraan sang bunda dan ayahnya.
“Ngapain dia ke rumah kita? Katanya udah punya rumah kok masih main kesini.”
Suara lamat-lamat dari sebrang sana memasuki rungu sabiru. Suara itu adalah suara ayahnya. Sabiru perlahan mendekat pada pintu kamar itu dan menguping pembicaraan kedua orang tuanya.
“Kamu harusnya nggak gitu, dia anak kamu,” Frischa bersuara.
“Kamu sayang anak kamu nggak sih, Mas?”
“I don't know how to answer this fucking question.”
“Maass. Kalau semisal kamu nggak sayang sama Sabiru, berarti kamu numpang nama gitu sama anak kamu sendiri? Terus gunanya kamu banding-bandingin anak aku sama Sabiru apa?
“Yaa mungkin bisa di bilang gitu. Kalau buat Kinara aku sengaja biar dia bisa lebih dari si anak kecil itu.”
“Mas, jangan panggil Sabiru anak kecil gitu, lah.”
“Biarin. Dia emang kayak anak kecil semenjak nggak ada bundanya.”
“Kamu nggak seharusnya gitu sama Sabiru,” Frischa mengambil napas dalam, dan menghembuskannya, “terserah kamu lah, Mas.
“Aku lagi nggak mau debat sama kamu, Frischa.”
Sabiru menghela napas. Gadis itu terdiam sesaat setelah mendengar percakapan kedua orang tuanya. Pikirannya penuh akan pertanyaan yang menghantuinya.
Apakah itu benar ayah? Numpang nama, maksudnya? Masa' ayah beneran bilang seperti itu?
Entahlah, terlalu banyak pertanyaan yang menghantui Sabiru. Gadis itu lantas pergi menuju dapur dan mulai memasak tanpa sang Bunda. Fokusnya kini sudah tertuju kepada pertanyaan-pertanyaan yang menghantui pikirannya, bukan lagi masakannya. Sabiru sudah tidak peduli lagi rasa masakannya nanti bagaimana, biarkan saja.
10 menit berlalu. Frischa datang dari arah kamar menuju dapur. Sabiru tidak melihat Frischa yang sudah berada di hadapannya, ia tidak memecah fokusnya dan lebih memilih untuk diam dan fokus memasak dengan muka datar.
Kini, suara telepon genggam Sabiru yang berbunyi. Lantas ia ambil telepon genggam miliknya dan mengangkat telepon itu.
“Halo?”
Sabiru terdiam beberapa saat—mendengarkan percakapan dari sebrang sana.
“Gue kesana, sebentar, gue matiin dulu teleponnya.”
Sabiru mematikan teleponnya, melirik ke arah Frischa.
“Bunda, aku..mau pamit, ada kerjaan yang harus aku urus dulu hehe. Boleh nggak?”
Frischa mengangguk. “Boleh, sayang. Gih sana.”
“Iyaa, Bunda. Maaf ya nggak bisa nemenin sampai selesai.”
“Hahaha gapapa sayang, bunda paham kok, kamu kan lagi proses syuting film nih ya, jadi wajar kok,” Frischa tersenyum, “Hati-hati di jalan ya sayang.”
“Iyaa Bunda, makasih yaa. Aku pergi dulu.”
Setelah berpamitan, Sabiru lantas pergi keluar dari rumah megah itu. Meninggalkan Frischa memasak sendiri dalam dapur rumah itu.