haechansalju

Sabiru menuruni mobil dan berlari kencang menuju rumah Ariel. Yang singgah di pikiran Sabiru sejak tadi ia berada di jalan raya hanya adiknya. Banyak pertanyaan yang timbul di otaknya. Sebenarnya apa yang terjadi? Adik Sabiru kenapa? Apakah adik kecilnya terlibat dalam suatu insiden?

Sabiru sangat menyayangi adiknya, sebab itu ia menjadi sangat khawatir ketika ada yang memberitahu sesuatu tentang adiknya.

Pandangan Sabiru terkunci pada gadis cantik yang tengah terduduk manis di sofa. Gadis itu menundukkan kepalanya, matanya terlihat sembab.

“Kinara,”

Kinara Amaira. Adik yang sangat Sabiru sayangi.

Sabiru berjalan mendekat, duduk di sebelah Kinara. Sabiru mengulurkan tangannya berharap Kinara membalas uluran tangan yang di berinya. Tidak ada jawaban.

Sabiru perlahan mendekat, merengkuh badan perempuan di depannya. Kinara menepis kedua tangan Sabiru. Hening.

“Kamu kenapa?” kepala Sabiru di miringkan menghadap adiknya. “kalau ada apa apa tuh cerita sama aku, jangan main ke rumah temen aku, Dek. Aku ini kakak kamu.. Harusnya kamu-”

“Kalau lo gue telfon juga nggak ada hasilnya.” potong Kinara.

Sabiru menghela napas. Ia memegang bahu Kinara, menepuk pelan. Kinara menepis kembali tangan Sabiru.

“Nggak usah sok peduli, Kak. Mending lo balik.”

Sabiru menggeleng, melemparkan pandangannya kepada Ariel.

“Kinara kenapa, Ri?”

“Kejambretan tadi di jalan deket rumah gue,” Ariel menarik napasnya. “gue tadi lagi jalan keluar, terus ngeliat adek lo lagi nyoba ngelawan malingnya. Tapi hasilnya nihil. Gua juga udah bantu tapi yaa hasilnya gitu. Maaf.”

Sabiru menoleh ke arah Kinara. “Kamu gapapa? Nggak ada yang luka, kan?”

Kinara berdiri, berjalan perlahan. “Kak Ariel gue mau pul-”

Sabiru berdiri, menahan adiknya untuk berjalan keluar. “Mau pulang naik apa? Kamu habis kejambretan.”

“Lo mending balik syuting.”

“Kinara Amaira.”

Kinara memutar balikkan badannya, berjalan memutar. Sabiru dengan sigap menarik lengan Kinara.

Kinara menggebrak meja yang berada di sampingnya.

“Kak!!,” Kinara berteriak. “Lo bisa nggak sih jangan ribet ngurusin gue? Ini hidup gue. Lo nggak berhak ngatur ngatur gue,”

“Aku kakak kamu.”

“Tau, gue tau lo kakak gue. Tapi gue muak liat muka lo.”

Hening sesaat.

“Gue tau Kak, lo ngorbanin banyak uang demi gue, gue tau, Kak. Tapi uang itu nggak cukup bagi gue. Lo tau seberapa sayangnya ayah sama lo? Lebih besar dari rasa sayang dia ke gue. Semenjak lo jadi model sama aktris, rasa sayang ayah hanya tertuju pada lo, ayah bahkan nggak ngelirik gue sama sekali. Bahkan saat gue ada prestasi pun ayah nggak ngelirik gue,”

“Oh, lo tau nggak seberapa sakitnya hati gue setiap di banding-bandingin terus sama lo? Lo tau? Nggak kan? Nggak ada yang tau Kak selain diri gue sendiri.”

“Kinara,”

“Apa? Gue belum selesai ngomong.”

“Nggak cukup Kak, uang yang lo kasih nggak cukup buat ngegantiin rasa sayang ayah ke lo.. Gue pengen semuanya adil. Gue pengen di sayang sebagaimana ayah sayang lo.”

“Kakak sayang kamu.”

“Mungkin cuma lo? Yang lain nggak.”

Kinara mendorong Sabiru hingga terhuyung jatuh ke lantai. Berjalan keluar dan meninggalkan rumah Ariel.

Sabiru membeku di tempat. Ariel dengan sigap menarik Sabiru kedalam dekapannya, membiarkan Sabiru menangis dalam dekapannya.

Hari ini cuaca tidak terlalu terik, namun tidak terlalu mendung juga. Jam menunjukkan tepat pukul 2 siang. Seharusnya, pukul 2 siang adalah puncak membaranya panas di bumi. Tetapi untuk hari ini tidak.

Sabiru sudah sibuk berada di dapur. Ia mengenakan celana ripped jeans dan baju berlengan pendek berwarna putih dengan motif kupu-kupu di tengahnya. Tak lupa, ia juga memakai celemek bermotif polkadot yang biasa ia gunakan saat memasak.

Bel berbunyi.

Sabiru yang tengah sibuk mengaduk segera menghentikan aktivitasnya. Sabiru melepas sarung tangan yang ia gunakan lalu berjalan menuju pintu. Membuka pintu.

“Hi,” sapa orang itu. “ini gue beneran boleh ikut masak?”

Sabiru mengangguk. “Boleh Jun, sini masuk.”

June.

Sabiru mempersilakan June masuk kedalam apartemennya. Menuju ruang tamu.

Bunga. Lelaki itu membawa bunga.

Sabiru melirik bunga yang di bawa oleh June. Tersenyum. “Iya, ini buat lo. Reward minggu lalu. Gue taruh sini ya,” June menaruh bunga yang ia bawa tadi diatas meja tamu. Sabiru tersenyum. “Makasih yaa.”

##

Sabiru dan June sekarang tengah sibuk memasak. Walau June hanya membantu sedikit, tetapi setidaknya dia juga ikut berpartisipasi membuat kue-kue ini.

Mereka berdua berbagi tugas. Sabiru membuat bolu gulung, June membuat cookies.

Suasana dapur menjadi sangat ramai karena June menjahili Sabiru. Adonan tepung yang telah di bercampur dengan mentega di leletkan tepat di hidung Sabiru. Gadis itu berteriak, lalu membalasnya. Tertawa.

“Ju, tolong dong tuangin itu tepung maizenanya, tapi dikit aja.”

June menoleh. Ide jahilnya menyeruak di kepalanya. Tersenyum jahil.

“Apa?” lelaki itu menoleh. “Gapapa.”

June mengambil tepung maizena yang sudah di ayak. Kebetulan, tepung maizena yang sudah di ayak jumlahnya melebihi yang tertera di resep. Dengan jahil, June menuangkan semua tepung maizena tersebut tanpa sisa.

Sabiru menoleh, mendelik.

“Ihhh junee, ini nanti bolunya jadi keras banget,” gadis itu menunduk, menekuk raut wajahnya.

June berjalan, ia berpindah posisi di belakang tubuh Sabiru. Ia menempelkan dagunya diatas bahu gadis itu. Tangannya di letakkan di belakang badannya.

Sabiru menghela napasnya. “Apa lagi?”

Tangan June dengan cepat mengoleskan adonan ke pipi kanan Sabiru. Tertawa. Berlari menghindari amukan Sabiru.

“JUNE SIALAN LO.”

Emosi Sabiru memuncak. Gadis itu mencolet adonan dan berlari mengejar June.

“WOI LO JANGAN KABUR JU!!”

Mereka berdua larut dalam pekerjaan baru mereka, berlari, menghindari satu sama lain supaya tidak tercemong adonan. Mereka berdua sibuk mengejar satu sama lain hingga melupakan apa yang seharusnya mereka kerjakan.

Cuaca sore hari ini sangat sejuk. Awan berjalan mengitari langit-langit bumi. Angin berhembus menerpa tubuh Sabiru dan June. Kedua insan itu tengah berjalan-jalan untuk mencari penjual es krim dan permen kapas.

Langkah kaki Sabiru memelan. Ia tidak punya semangat apapun. Sejak tadi saat Sabiru berada di mobil ia hanya diam.

“Lo suka ice cream yang di jual pakai mobil gitu nggak, Sa?”

Satu lontaran pertanyaan June memecah keheningan.

Sabiru tersenyum kaku, “Suka.”

June menunjuk ke arah kanannya, “Yuk jalan kesana. Tuh ada cotton candy juga. Kesukaan lo, kan?”

June menatap wajah sabiru, tersenyum. Sabiru mengangguk.

“Tunggu.”

“Lomba lari mau nggak? Yang menang nanti di traktir sama yang kalah—”

“IH AYOO!!”

Sabiru dan June mengambil posisi, siap untuk berlari. June mulai menghitung.

“Satu...”

“Dua...”

“Ti—”

Sabiru berlari terlebih dahulu, lebih unggul dari June. June terdiam, masih mengolah apa yang baru saja terjadi.

“SABIRU LO CURANG!!” Teriak June.

##

“Gue menang, jadi lo harus traktir gue.”

“Lo menang karna curang, ya. Jangan soker.”

Sabiru tertawa kencang.

Sabiru dan June menikmati es krim sembari berjalan-jalan. Bercanda satu sama lain, tertawa. Mood Sabiru sudah membaik.

“Ju, mau cobain tempat lo, boleh?”

“Nih,” June menyodorkan es krimnya kepada Sabiru.

Sabiru mengambil es krim yang june beri dan menggigitnya.

“Loh loh loh, kok di gigit?”

“Hehehe.”

June memperhatikan Sabiru yang tengah menikmati es krimnya. Tersenyum.

“Kalau makan jangan belepotan, Sa. Nanti di datengin semut.” June mengusap bibir bawah Sabiru yang berantakan terkena noda es krim.

Sial! Jantung sabiru berdegup kencang. Ia melipat bibirnya masuk kedalam mulut, menahan diri untuk tidak tersenyum walau hatinya sedang berantakan.

June berdiri, “Bentar ya, Sa. Gua ambil pesenan cotton candy tadi dulu” Sabiru mengangguk.

June melangkahkan kakinya, menjauh.

Sabiru melemparkan lamunan pandangannya ke arah cakrawala bumi yang mulai berubah menjadi warna oranye. Gadis itu menghela napasnya.

Seseorang menepuk bahu Sabiru. Terkejut. Sabiru menoleh. Matanya menatap tajam seseorang yang tadi menepuk bahunya.

“IYA MAAF, SA.”

“Nih.” June memberikan permen kapas tersebut kepada Sabiru.

“Kok gambarnya babi? Bukannya tadi gue pesennya kelinci?”

“Oh itu tadi sticker kelincinya habis. Sisa sticker babi kata penjualnya.” Sabiru mengangguk.

“Babi kan juga lucu,” Sabiru menoleh “kayak lo.”

Sabiru berdiri, memukul lengan June dengan seluruh tenaganya. June tertawa, lalu meringis kesakitan.

“IYA MAAF, GUA BABINYA DAH.”

Hari ini, langit terlihat lebih redup di banding hari-hari sebelumnya. Matahari yang mulanya menyinari bumi, kini mulai memudar dan tergantikan oleh awan abu-abu yang menggumpal di langit-langit bumi.

Daun-daun bergelayut mengudara. Dinginnya angin yang berhembus menerpa tubuh insan-insan yang tengah melakukan aktivitas di luar ruangan. Termasuk gadis yang tengah duduk sendiri di sebuah taman kota.

Sabiru.

Gadis itu terduduk manis di kursi taman kota tersebut. Seorang diri.

Sabiru menatap lamat-lamat langit yang kini sudah menghitam. Burung-burung berterbangan seolah berkata 'saatnya kembali pulang sebelum hujan tiba.'

“Sabiru.”

Suara itu memecahkan lamunan Sabiru. Ia menoleh dan mendapati seorang lelaki tinggi dan memiliki netra mata berwarna hazel. Lelaki itu tersenyum.

Lelaki yang telah sekian lama meninggalkannya dan membuat perasaan Sabiru terkurung, kini tengah berdiri di hadapannya.

Kebahagiaan beserta amarah di dalam tubuh Sabiru bercampur aduk.

Sabiru terpaku. Ia sedikit enggan untuk menatap wajah lelaki di depannya. Menunduk.

Lelaki itu menatap Sabiru.

Sabiru bangkit dari duduknya. Lelaki itu tersenyum.

“June..”

“How are you, Sabiru?”

“I'm good.”

##

10 menit berlalu, rintik-rintik air mulai berjatuhan membasahi apapun yang berada di muka bumi. Sabiru dan June bergegas mencari tempat untuk berteduh sebelum hujan menjadi semakin lebat.

Sejujurnya, Sabiru sangat tidak menyukai hujan. Disaat orang lain menyukai hujan, Sabiru tidak menyukainya. Sabiru takut akan petir dan hujan yang lebat. Tidak ada trauma dan sejenisnya yang ia alami. Sabiru memang tidak menyukai hujan, itu saja.

Petir mulai menggelegar. Detak jantung Sabiru berdegup sangat kencang. Sabiru menunduk, ia takut. Sabiru sangat tidak nyaman dengan situasi ini.

June yang melihat Sabiru tidak nyaman, mengeluarkan airpods miliknya dan memasangkan ke telinga Sabiru alih-alih supaya gadis itu tidak mendengar suara petir menyambar terlalu kencang.

Lalu, June meraih tangan Sabiru dan menggenggamnya.

“Kalau lo gak nyaman atau takut, genggam tangan gua aja, Sa.”

Sabiru tersenyum. Hatinya menghangat. June masih mengingat bahwa Sabiru sangat amat takut dengan hujan dan petir.

June Alzeroson.

Seseorang di masa lalu yang pernah menjalani hubungan tanpa status dengan Sabiru.

Sempat hilang kabar di karenakan keberadaan June yang ntah dimana, hilang bak di telan bumi secara tiba-tiba. Kini, takdir mempertemukan mereka kembali.

15 menit berlalu. Hujan mulai mereda, hanya tersisa rintik-rintik air yang berjatuhan.

“You can open your eyes now.”

Sabiru membuka matanya. Sejak 10 menit lalu, ia memejamkan matanya supaya tidak melihat petir yang menyambar yang ntah dimana tempat mendaratnya petir itu.

“Ayo ke mobil gua sebelum hujan lebih deras lagi.”

Sabiru menatap June ragu. Menoleh. June melepas jaket yang ia kenakan.

Mendekat, mengarahkan jaket yang ia lepas ke atas tubuh mungil perempuan itu, menutupi kepala dan badan Sabiru untuk melindunginya dari air hujan.

“Siap nggak mau tempur sama hujan?”

Sabiru tertawa.

“Yuk!!”

“Eh tapi lo nanti kebasahan, gimana?”

June menoleh, “Ya gapapa, sa. Gua mah udah biasa hujan hujan. Udah yuk tempur dulu.”

Sabiru mengangguk sembari tersenyum menatap June.