Ice cream, cotton candy, and her smile

Cuaca sore hari ini sangat sejuk. Awan berjalan mengitari langit-langit bumi. Angin berhembus menerpa tubuh Sabiru dan June. Kedua insan itu tengah berjalan-jalan untuk mencari penjual es krim dan permen kapas.

Langkah kaki Sabiru memelan. Ia tidak punya semangat apapun. Sejak tadi saat Sabiru berada di mobil ia hanya diam.

“Lo suka ice cream yang di jual pakai mobil gitu nggak, Sa?”

Satu lontaran pertanyaan June memecah keheningan.

Sabiru tersenyum kaku, “Suka.”

June menunjuk ke arah kanannya, “Yuk jalan kesana. Tuh ada cotton candy juga. Kesukaan lo, kan?”

June menatap wajah sabiru, tersenyum. Sabiru mengangguk.

“Tunggu.”

“Lomba lari mau nggak? Yang menang nanti di traktir sama yang kalah—”

“IH AYOO!!”

Sabiru dan June mengambil posisi, siap untuk berlari. June mulai menghitung.

“Satu...”

“Dua...”

“Ti—”

Sabiru berlari terlebih dahulu, lebih unggul dari June. June terdiam, masih mengolah apa yang baru saja terjadi.

“SABIRU LO CURANG!!” Teriak June.

##

“Gue menang, jadi lo harus traktir gue.”

“Lo menang karna curang, ya. Jangan soker.”

Sabiru tertawa kencang.

Sabiru dan June menikmati es krim sembari berjalan-jalan. Bercanda satu sama lain, tertawa. Mood Sabiru sudah membaik.

“Ju, mau cobain tempat lo, boleh?”

“Nih,” June menyodorkan es krimnya kepada Sabiru.

Sabiru mengambil es krim yang june beri dan menggigitnya.

“Loh loh loh, kok di gigit?”

“Hehehe.”

June memperhatikan Sabiru yang tengah menikmati es krimnya. Tersenyum.

“Kalau makan jangan belepotan, Sa. Nanti di datengin semut.” June mengusap bibir bawah Sabiru yang berantakan terkena noda es krim.

Sial! Jantung sabiru berdegup kencang. Ia melipat bibirnya masuk kedalam mulut, menahan diri untuk tidak tersenyum walau hatinya sedang berantakan.

June berdiri, “Bentar ya, Sa. Gua ambil pesenan cotton candy tadi dulu” Sabiru mengangguk.

June melangkahkan kakinya, menjauh.

Sabiru melemparkan lamunan pandangannya ke arah cakrawala bumi yang mulai berubah menjadi warna oranye. Gadis itu menghela napasnya.

Seseorang menepuk bahu Sabiru. Terkejut. Sabiru menoleh. Matanya menatap tajam seseorang yang tadi menepuk bahunya.

“IYA MAAF, SA.”

“Nih.” June memberikan permen kapas tersebut kepada Sabiru.

“Kok gambarnya babi? Bukannya tadi gue pesennya kelinci?”

“Oh itu tadi sticker kelincinya habis. Sisa sticker babi kata penjualnya.” Sabiru mengangguk.

“Babi kan juga lucu,” Sabiru menoleh “kayak lo.”

Sabiru berdiri, memukul lengan June dengan seluruh tenaganya. June tertawa, lalu meringis kesakitan.

“IYA MAAF, GUA BABINYA DAH.”