Making cakes with him

Hari ini cuaca tidak terlalu terik, namun tidak terlalu mendung juga. Jam menunjukkan tepat pukul 2 siang. Seharusnya, pukul 2 siang adalah puncak membaranya panas di bumi. Tetapi untuk hari ini tidak.

Sabiru sudah sibuk berada di dapur. Ia mengenakan celana ripped jeans dan baju berlengan pendek berwarna putih dengan motif kupu-kupu di tengahnya. Tak lupa, ia juga memakai celemek bermotif polkadot yang biasa ia gunakan saat memasak.

Bel berbunyi.

Sabiru yang tengah sibuk mengaduk segera menghentikan aktivitasnya. Sabiru melepas sarung tangan yang ia gunakan lalu berjalan menuju pintu. Membuka pintu.

“Hi,” sapa orang itu. “ini gue beneran boleh ikut masak?”

Sabiru mengangguk. “Boleh Jun, sini masuk.”

June.

Sabiru mempersilakan June masuk kedalam apartemennya. Menuju ruang tamu.

Bunga. Lelaki itu membawa bunga.

Sabiru melirik bunga yang di bawa oleh June. Tersenyum. “Iya, ini buat lo. Reward minggu lalu. Gue taruh sini ya,” June menaruh bunga yang ia bawa tadi diatas meja tamu. Sabiru tersenyum. “Makasih yaa.”

##

Sabiru dan June sekarang tengah sibuk memasak. Walau June hanya membantu sedikit, tetapi setidaknya dia juga ikut berpartisipasi membuat kue-kue ini.

Mereka berdua berbagi tugas. Sabiru membuat bolu gulung, June membuat cookies.

Suasana dapur menjadi sangat ramai karena June menjahili Sabiru. Adonan tepung yang telah di bercampur dengan mentega di leletkan tepat di hidung Sabiru. Gadis itu berteriak, lalu membalasnya. Tertawa.

“Ju, tolong dong tuangin itu tepung maizenanya, tapi dikit aja.”

June menoleh. Ide jahilnya menyeruak di kepalanya. Tersenyum jahil.

“Apa?” lelaki itu menoleh. “Gapapa.”

June mengambil tepung maizena yang sudah di ayak. Kebetulan, tepung maizena yang sudah di ayak jumlahnya melebihi yang tertera di resep. Dengan jahil, June menuangkan semua tepung maizena tersebut tanpa sisa.

Sabiru menoleh, mendelik.

“Ihhh junee, ini nanti bolunya jadi keras banget,” gadis itu menunduk, menekuk raut wajahnya.

June berjalan, ia berpindah posisi di belakang tubuh Sabiru. Ia menempelkan dagunya diatas bahu gadis itu. Tangannya di letakkan di belakang badannya.

Sabiru menghela napasnya. “Apa lagi?”

Tangan June dengan cepat mengoleskan adonan ke pipi kanan Sabiru. Tertawa. Berlari menghindari amukan Sabiru.

“JUNE SIALAN LO.”

Emosi Sabiru memuncak. Gadis itu mencolet adonan dan berlari mengejar June.

“WOI LO JANGAN KABUR JU!!”

Mereka berdua larut dalam pekerjaan baru mereka, berlari, menghindari satu sama lain supaya tidak tercemong adonan. Mereka berdua sibuk mengejar satu sama lain hingga melupakan apa yang seharusnya mereka kerjakan.