This could be

Sabiru tiba setengah jam kemudian. Di bukanya pintu mobil dengan tergesa dan memasuki pet shop sambil berlari. Napasnya memburu, matanya terlihat sembab akibat menangis di dalam mobil tadi.

Gadis itu berhenti berlari ketika melihat seorang lelaki yang tengah duduk di kursi tunggu sambil mengepalkan tangannya dan menunduk. Sabiru mematung sesaat, mendekat perlahan pada lelaki di depannya.

Gadis itu ambruk di depan lelaki yang berada di hadapannya. Dengan sigap lelaki itu merengkuh badan Sabiru dan memeluknya.

“Sky-ku, Ju..” lirih Sabiru.

“Sky kamu gapapa, Sayang. Dia baik-baik aja, operasinya udah selesai, dia gapapa, tenang ya,” ucap June sambil mengelus punggung Sabiru.

Sabiru melepaskan pelukannya. “Aku mau ketemu Sky.”

“Nggak boleh. Kata perawat-perawatnya nggak boleh sekarang.”

“Belum selesai operasinya, Babe?

“Udah. Kamu tunggu sini, bentar lagi dokternya keluar mau kasih liat sky nelen apa.”

Sabiru menghela napasnya kasar. Ia terduduk di kursi tunggu sambil meremas-remas rambutnya frustasi.

Lima menit kemudian sang Perawat datang membawa barang berwarna hitam pekat.

Sabiru mendelik, ia menatap June kebingungan.

“Plastik?”

sang Perawat mengangguk. “Iya, Kak. Kucing Kakak makan plastik.”

“Anjing.” umpat Sabiru.

“Eh?” gadis itu melihat plastik itu dengan seksama, “bentar,”

Sabiru menggerakan tangannya, mengambil plastik yang di bawa oleh perawat tadi. Reflek mengangkat tangannya karena plastik itu basah.

Dengan berani, gadis itu mengambil plastik itu dengan kedua tangannya. Melihat ada yang ganjal saat pertama kali melihat plastik itu, gadis itu pun membukanya.

Sabiru terbelak, menatap June tajam, memukul dada bidang June dengan sisa tenaganya. Ia menarik benda yang berada di dalam plastik itu dan memandanginya dengan teliti.

“Ini apa ya maksudnya?” tanya Sabiru dengan nada datar.

June hanya senyum dan terdiam, menatap Sabiru yang tengah kebingungan dengan benda yang sedang ia pegang.

“Ini cincin buat apa?”

“Tunangan.” jawab June santai

“Hah?!” Sabiru reflek menendang kaki June.

“Hehe, maafin akuu, Sayang.”

June merengkuh badan Sabiru, memeluknya dengan erat. Sabiru menangis di dalam pelukan itu.

“Aneh banget,” suara Sabiru terdengar parau akibat menangis terlalu banyak di mobil tadi, “terus Sky ku gimana?”

“Sky kamu baik-baik aja, sih. Ada di dalem.”

“Anjing kamu, Ju. Jantungku mau copot.”

“Hahaha maaf.”

June melepaskan pelukannya. Mengambil cincin yang di bawa Sabiru, memasangkannya pada jari manis Sabiru. Cincin berwarna putih itu terlihat cantik pada tuannya.

Sabiru menghela napasnya, memandangi cincin yang berada di tangannya. Tersenyum.

“Kamu..ini sebenarnya mau ngapain? Maksudku, cincin yang ada di tangan ku ini buat apa?”

“Buat ngelamar kamu, walau belum resmi, sih.”

June menarik tangan Sabiru pelan. “Aku sayang kamu.”

“Maaf aku nggak bisa seromantis orang lain waktu pacaran sama kamu. I'll try my best, so here it was.

“I love you more than anything. Aku nggak mau kamu lepas dari aku. So, this why aku mau jadiin kamu tunangan kamu.”

“You are everything I want, Babe. Aku mau kamu jadi teman hidupku sampai aku besok tua, aku mau jadi teman ngobrol kamu sampai besok tua, aku juga mau jadi seorang ayah dari anak-anak kita nanti.”

“Aku siap nerima kurangnya kamu. Kalau lebihnya kamu itu bonus, kurangnya bisa aku lengkapin. Aku pengen kita bisa saling melengkapi.”

“And I will spend my whole life to loving you.”

Sabiru menarik tangannya dari genggaman June, menutup mulutnya rapat-rapat dengan kedua tangannya. Ia tidak tau ingin menjawab apa. Satu bulir air matanya jatuh dari mata kanannya.

“Sayang, I don't know how to answer..but, thank you so much.”

Gadis itu menghapus air matanya. Tersenyum.

“Makasih karena udah ngebuat aku selalu senyum saat aku bareng-bareng sama kamu. Kamu itu terbaik pokoknya.”

June terkekeh. Senyuman mulai terukir di wajahnya.

“Sabiru, will you be my fiancee?”

Sabiru mengangguk. “Yes, I will.”

Mereka berdua berpelukan. Seisi ruangan itu bertepuk tangan sembari berteriak histeris. Suasana malam ini terasa sangat hebat bagi kedua insan itu.

Kedua insan yang saling mencintai satu sama lain akan menjadi satu. Lika-liku perjalanan hidup yang mereka alami akan menjadi saksi kisah hidup mereka sebelum menjalani kehidupan baru.

Semua ujung cerita pada akhirnya akan ada yang bahagia, dan ada pula yang akan menjadi sedih. Semuanya tergantung dengan bagaimana caramu mempertahankan itu semua.

Pada akhirnya, Sabiru dan June menjalani kehidupan mereka dengan berbahagia. Dan begitupun cerita ini selesai di tulis, mereka akan selalu berbahagia dengan kehidupan kecil mereka kelak.