What a beautiful night

CW // KISSING

June menopang badan Sabiru, berjalan menuju mobil. Badan Sabiru hangat—bisa jadi gadis itu terserang demam. Sabiru membenarkan posisinya pada kursi mobil yang sedang ia duduki. June menyalakan pendingin udara mobil dengan suhu sedang. June tidak membuka jendela mobil karena ia tahu bahwa angin malam lebih buruk daripada pendingin udara mobil dengan suhu paling dingin. Lelaki itu mengambil selimut yang berada di kursi mobil bagian belakang dan meyelimutkannya pada tubuh Sabiru.

Saat June menyalakan mesin mobilnya, Sabiru sontak menoleh kearah June. Gadis itu menatap wajah lelaki di hadapannya dengan tatapan sendunya.

“Lo lagi sakit, tidur aja, ya?”

Sabiru menggeleng. Ia ingin menemani June menyetir.

June menghela napasnya. “Nggak boleeehh, mereem,” lelaki itu menepuk pucuk kepala Sabiru dan menutup mata gadis itu, “dahh tidur pokoknya, close your eyes please, don't you dare to open your eyes ya.”

Tiga puluh menit berlalu dengan cepat. June memberhentikan mobilnya pada parkiran toserba yang masih buka—toserba ini buka dua puluh empat jam, satu satunya toserba dua puluh empat yang pernah June temui.

June melepas sabuk pengamanya lantas memegang dahi Sabiru, mengeceknya apakah masih panas atau sudah menurun. Panas Sabiru makin naik. June menghela napasnya.

“Gua turun sebentar, ya, beliin lo obat. Gua balik lagi kok kalau udah selesai belanja, sebentar ya.”

Sebelum meninggalkan mobil, June menepuk-nepuk pelan kepala Sabiru. Tersenyum.

Sabiru terbangun lima menit kemudian. Ia menoleh, tidak ada June. Sabiru membuka telepon genggamnya, ia ingin mengetahui pukul berapa sekarang. Dua puluh tiga lewat dua puluh dua menit. Tak lama, dari kejauhan, matanya menangkap June yang sedang berlari menuju mobil.

Lelaki itu membuka pintu mobilnya dan melihat Sabiru tengah tersenyum manis kearahnya bak tidak terjadi apa-apa padahal gadis itu sedang terkena demam tinggi.

“Kapan bangunnya? Udah lama? Nih minum dulu.”

June menyodorkan minuman—air putih untuk Sabiru minum. Saat Sabiru ingin mengambilnya, June terlebih dahulu membukakan tutup botol pada botol minum tersebut karena ia tahu Sabiru tidak akan kuat untuk membuka tutup botol itu pada keadaan seperti ini.

“Udah? Nih makan roti dulu, Sa.”

Sabiru menggeleng. “Mau gua suapin?” gadis itu mengangguk pelan, “dasarr manja.”

Sabiru memukul lemas lengan June. Tersenyum tipis.

Sabiru tidak menghabiskan rotinya, mungkin hanya tiga perempat bagian yang ia makan. Tetapi tidak apa, yang terpenting Sabiru masih mau makan. Setelah selesai makan roti, June menyuruh Sabiru untuk meminum obat. Awalnya Sabiru menolak, tetapi setelah terjadi tawar menawar dengan June, ia mau meminum obatnya.

“Udah ya, gue tagih janji lo besok.” ucap Sabiru dengan nada lemas.

June mengeluarkan sesuatu dari kantong plastik. Sabiru melihat lamat-lamat benda berwarna pink yang berbentuk lumba-lumba. Netra mata Sabiru terlihat berbinar melihat mainan itu. Gelembung balon.

Sabiru tidak menduga bahwa June akan membeli barang itu. Gadis itu dengan antusias membuka kemasan yang menutupi mainan tersebut.

Sabiru menoleh. “Can I play this in here?”

Anything for you, girl. Tapi hati-hati nanti kena mata lo.” June mengelus-elus kepala Sabiru.

Sabiru menuangkan sabun pada tempat yang sudah di sediakan dalam kemasan mainan tadi. Menempelkan ujung mulut lumba-lumba pada sabun yang sudah ia tuang, memencet tombol supaya puluhan gelembung balon keluar mengudara bebas di dalam mobil tersebut.

“Aw—HAHAHAHA ini lucu banget aduh aduh gemesnyaa aduh. Ini kalau gue makan, I will be okay or not?

“Use your brain, please.”

“HAHAHAH IYAA MAAF!! gue kepo sama rasanya tau,”

June hanya menggeleng melihat tingkah laku Sabiru yang sangat amat tidak bisa di tebak. Bisa-bisanya Sabiru ingin mencicipi sabun.

Sabiru sekarang mungkin sudah sedikit membaik, ia sudah tertawa lepas. Gadis itu juga sudah mulai kembali bersemangat. Tidak seperti tadi, lemas seperti sayur yang layu.

Kini, gelembung-gelembung sabun sudah memenuhi mobil. June yang sedari tadi memperhatikan Sabiru kini mulai terganggu akibat gelembung sabun itu karena menutupi wajah Sabiru.

“Sa, stop.

Sabiru menoleh, mengerutkan dahinya. Ia tidak mengerti kenapa lelaki itu menyuruhnya berhenti bermain dengan gelembung sabun. Lantas, June mengambil sisi mainan itu dengan halus.

Lelaki itu menatap dalam wajah Sabiru. Begitu pula dengan Sabiru. Tangan kiri June mengambil kesempatan untuk menempelkan ujung mulut lumba-lumba pada sabun dan memencetnya.

Puluhan atau bahkan mungkin ratusan gelembung beterbangan di dalam mobil itu. June dan Sabiru masih bertatapan satu sama lain, tidak memperhatikan gelembung-gelembung yang berlalu lalang di depannya, di sampingnya, dan di belakangnya.

June memajukan badannya sehingga hanya tersisa sedikit jarak diantara mereka berdua. Cup. June mengecup bibir Sabiru di tengah-tengah gelembung yang sedang berlalu lalang dan menabrak benda-benda di sekitarnya yang menghalangi gelembung itu untuk keluar.

“I think this was a beautiful night,”

Sabiru melirik jam yang ia pakai dan menyisakan celah watu diantara mereka berdua.

Lima..Empat..Tiga..Dua..Satu..

June dan Sabiru maju bersamaan, mengecup bibir lawan masing-masing tepat pada pukul dua belas malam. Bibir mereka masih menempel, napas mereka beradu. June melumat bibir Sabiru perlahan. Malam ini, mereka tenggelam dalam ciuman itu.

June mendekat kearah telinga Sabiru dan berbisik. “I love you, more than you've know.”

Malam ini mungkin menjadi malam yang indah bagi Sabiru dan June di banding malam-malam sebelumnya. Malam yang awalnya Sabiru pikir lama dan terburuk, kini berubah menjadi malam yang indah. Entahlah malam yang indah seperti ini akan terjadi lagi di lain waktu atau tidak. Tidak seorangpun tau apakah akan ada malam yang indah di hari-hari berikutnya.