Star Fall
Senja mulai menyelimuti tengah kota. Suara hiruk piruk manusia terdengar, memasuki rungu Haura. Gadis itu tengah berjalan dipinggir jalanan kota.
Haura masih mengenakan seragam sekolahnya. Ia menggunakan seragam biru putih—khas anak Sekolah Menengah Pertama.
Ya, Haura berjalan-jalan setelah ia menyelesaikan sekolahnya di hari itu.
Suara langkah kaki orang berlari mendekatinya mengganggu pikiran Haura yang daritadi tengah ia gunakan untuk memikirkan nilai dari ulangan harian yang ia kerjakan tadi disekolah.
Satu tepukan mendarat dibahu Haura dan berhasil mendebarkan jantung gadis itu. Bagus, Haura terkejut karena tepukan itu.
“Haii,”
Haura menoleh dan mendapati sesosok lelaki bertubuh tinggi.
“Eh, hai Farrel.”
Farrel merangkul Haura dan berjalan beriringan dengan gadis itu.
“Apasih kamu sok asik banget!” Haura meringis.
“Sssttt, jangan berisik.”
Haura memutar bola matanya, mulutnya ia kunci rapat rapat sembari berjalan bersama Farrel.
Farrel mencubit hidung Haura. “Kenapa diem aja?”
“Aku gak mood buat ngobrol.”
“Ututut anak kecil gak mood. Kenapa kamu?”
“Gapapa. Cuma kepikiran nilai ajaa.”
“Gak apa apa, kamu udah berusaha kok. Kamu keren!!” Suara Farrel berubah menjadi bersemangat untuk menyemangati Haura.
Gadis itu tersenyum, matanya menghilang karena senyuman yang ia ukir di wajahnya.
“Kamu suka bintang gak, Hau?”
“Eh? Tiba-tiba banget?”
“Jawab dongg Hauraa”
“Iyaa, Farrel, aku suka bintang. Kenapa?”
Farrel melepaskan rangkulan dipundak Haura, memasukan tangannya kedalam kedua saku celananya. “Kalau bintangnya jatuh, kamu tetep suka?”
“Iya dong! Mau gimana pun juga bintang itu pernah tinggal lama di luar angkasa yang luass,” Haura menghadapkan tubuhnya menghadap Farrel. “Kita juga bisa buat permintaan dari bintang jatuh, hehe.”
“Emang kamu mau minta apa?”
“Aku nggak tau juga sebenarnya. Kamu kalau semisal liat bintang jatuh mau ada permintaan apa?”
“Aku pengen bareng-bareng sama kamu terus.”
Haura memukul lengan kiri Farrel. “Diem ah sut.”
“Tapi serius, pengen temenan yang lama banget,” Farrel menggeleng sembari tersenyum tipis. “kira kira bisa gak, ya?”
“Bisa banget dong. If we sees a star was falling, jangan lupa buat permintaan itu!!”
“Sok Inggris.”
“APASIH KAMU”
— Yogyakarta, 2014