Through the rain
CW // KISSING
Sabiru melangkahkan kakinya menuju tempat June berada. Langkahnya bergontai, kaki Sabiru terasa ruai. Berkali-kali suara gelegar petir memasuki rungu Sabiru hingga membuat gadis itu bergedik ngeri.
Sabiru tidak menyukai hujan dan petir.
Hal ini yang membuat Sabiru enggan menemui June pada saat itu juga. Tetapi, ntah apa yang ada di pikirannya sehingga Sabiru menyetujui untuk menemui June pada saat hujan lebat di sertai dengan suara gemuruh petir yang terdengar menggema di langit-langit bumi.
Angin berhembus menabrak tubuh Sabiru. Gadis itu berlari mencari tempat untuknya berteduh. Dapat. Sabiru mendapatkan tempat untuknya berteduh. Di tempat itu, di bangku panjang berwarna cokelat, Sabiru melihat telepon genggam milik June yang terletak begitu saja di bangku panjang itu.
Ya Tuhan, nih dia ngga takut apa ya hpnya di curi..
Sabiru menghela napasnya, melihat sekeliling. Tidak ada orang sama sekali.
“Sabiru!”
Satu teriakan itu memecah fokus Sabiru. June. Suara teriakan itu seperti suara teriakan June. Sabiru menoleh ke tempat suara itu berasal. Ia mendapati June sedang melambai padanya.
“Sini!”
Lelaki itu berteriak di bawah derasnya hujan, badannya basah terkena percikan-percikan air yang menimpa tubuhnya.
Sabiru menggeleng. Ia memilih memperhatikan lelaki itu bermain hujan di banding bermain hujan dengannya. Sabiru tidak menyukai hujan. Sebab itu ia memilih untuk memperhatikan lelaki itu dari jauh. Sabiru duduk di bangku yang berada di tempatnya berteduh.
June berlari mendekati Sabiru. Gadis itu sontak berdiri. Sabiru memiringkan kepalanya.
“Kenapa, Ju?”
June mendekatkan dirinya pada Sabiru, merengkuh badan gadis itu dan memeluknya.
Sabiru membeku di tempat. “Heh ini gue basah anjir,”
“Yaa gapapa? Tujuan gua,” June tertawa, lantas ia melepas pelukannya. Lelaki itu memasukan kedua tangannya dalam saku celananya. “taruh barang-barang penting lo di situ”
“Lo jangan gila, nanti kalau ada orang ambil gimana?”
June melihat sekeliling. “Nggak ada orang, taruh aja.”
Sabiru berdecak. Ia mengikuti perkataan June, menaruh barang-barang pentingnya di atas bangku panjang berwarna cokelat itu.
Sabiru menatap wajah lelaki yang berada di depannya. “Terus?”
June menarik lengan Sabiru, mengajaknya berlari di bawah lebatnya hujan, menuju tempat yang menurutnya cukup lapang.
“June anjir gue basah banget!”
“Ssttt,” June menutup mulut Sabiru dengan tangan kirinya. Tangan kanannya menbuat pertahanan supaya lebatnya air hujan tidak memasuki mata Sabiru dan membuat gadis itu meringis. “jangan berisik.”
“Mau lo ap–” suara petir yang menyambar pada penangkal petir terdengar sangat keras. Sabiru menutup telinganya, badan gadis itu hampir terjatuh, namun June dengan sigap menangkap Sabiru terlebih dahulu sebelum terjatuh dan mendekapnya di bawah derasnya hujan.
Badan Sabiru bergetar. Jantungnya berdegup kencang. June lantas mendekap erat tubuh Sabiru dan mengelus punggung gadis itu.
Lelaki itu menatap wajah Sabiru yang tertunduk. “It's okay, Sa. Lo nggak perlu takut sama itu semua selagi ada gue. Lo udah berani, Sa. Lebih berani dari dulu.”
Sabiru menggeleng.
“Sa, listen to me. Lo sekarang udah berani hujan-hujan, itu tandanya lo udah berani,”
“Tapi perasaan gue nggak enak, rasanya takut, gelisah. Lo harusnya paham, Ju.”
“Iyaa Sabiru, gua paham. Siniin tangan lo, genggam erat tangan gua.”
June mengulurkan tangannya kepada Sabiru. Gadis itu ragu, tetapi ia tetap membalas uluran tangan lelaki di depannya, menggenggamnya dengan erat.
“Transfer semua ketakutan lo dalam genggaman ini. Gua nggak yakin bakal work seratus persen, tapi setidaknya gua mungkin bisa ngehilangin sedikit ketakutan lo.”
“Sa, anggap petir itu kembang api. Kalau lo perhatiin, suara petir mirip sama suara kembang api yang besar itu kan?”
Sabiru mengangguk.
“Nah. Lo anggap petir itu kembang api. Kalau lo tanya kenapa lo harus anggap petir itu kembang api, itu karena ya suaranya mirip.” June dan Sabiru tertawa.
“Kembang api itu kan buatan manusia, kalau petir itu kembang api buatan Tuhan. Lo tau kan kalau kembang api yang di nyalakan orang-orang waktu tahun baru indah banget? Sama halnya dengan petir. Petir itu sebenarnya indah kok, Sa. Sama kayak kembang api. Tapi itu tergantung sudut pandang orang-orang. Kalau bagi gua ya indah-indah aja sih.”
“Dan hujan itu sebenarnya— ya Tuhan indah banget. Walau kadang bawa petaka, tapi hujan itu indah banget, Sa. Menurut gua, hujan itu karya Tuhan terindah yang pernah Tuhan ciptain. Kalau lo tanya kenapa, karena gua hari ini bisa hujan-hujan sama lo”
Sabiru menepuk lengan June. Tertawa. “Sumpah nggak nyambung!”
“Di sambung-sambungin lah,”
Sabiru memutar bola matanya, lantas terkekeh.
“June, makasihh. Makasih banyak, gue merasa sedikit lebih tenang pas ada petir ataupun hujan. Semuanya karna lo. Walau gue sempet kaget tadi tiba-tiba lo ajak main hujan-hujan, tapi gue jadi ngerasa lebih tenang. Jujur ini terkesan mendadak banget anjir tapi gapapa sih. Thank you very muchh, Ju..”
June mengangguk, tersenyum lebar hingga matanya tidak terlihat.
Sabiru dan June lantas bangkit berdiri setelah lama berjongkok. Menatap satu sama lain.
June mengulurkan tangannya. “Wanna dance with me, Miss Sabiru?”
Sabiru mengernyit, memiringkan kepalanya. Membalas uluran tangan June. “Sure, Mr. June.”
7 menit berlalu, mereka berdua masih menikmati berdansa di bawah derasnya hujan bak seorang anak kecil yang menikmati jatuhnya bulir air saat bermain hujan-hujanan.
Canda tawa dan kekehan kecil yang mereka berdua ciptakan mengisi ritme rintikan hujan yang berjatuhan membasahi bumi.
“Sabiru,” suara june memecah canda tawa mereka berdua.
“Iyaa?”
June mengambil kedua tangan Sabiru dan menggenggamnya.
“Sabiru, i don't know how to tell you about my feelings. But to be honest, i like you. I like you since we're first meet. No, maksud gua, gua udah tertarik sama lo dari awal kita ketemu waktu SMA dulu. Well, dulu kita sempet deket banget sampai nggak sadar dulu kita udah masuk fase friend with affection hahaha. Dan sejak saat itu gua suka sama lo, sukaa banget, Sa.”
Hening sesaat.
“I have crush on you, Sabiru.”
Suara gelegar petir terdengar seperti mengisi ruang hampa saat June berhenti berbicara. Lelaki itu menatap dalam wajah gadis itu, memperhatikan detail wajah milik Sabiru.
Sabiru perlahan mendekat, menatap wajah June. Berjinjit, menempelkan bibirnya pada bibir lawannya.
June memundurkan dirinya karena terkejut. Tetapi ia segera mendekatkan dirinya dengan sabiru dan membalas dengan menempelkan bibirnya kembali dengan Sabiru, menciumnya dengan ritme. Napas mereka beradu, menatap satu sama lain. Mereka berdua hanyut dalam ciuman yang mereka lakukan di bawah derasnya hujan.
Biarkan hujan kali ini menjadi saksi bagaimana June membuat sabiru merasa tenang saat lelaki itu menjelaskan tentang petir dan hujan yang indah pada gadis itu. Biarkan hujan kali ini menjadi saksi bagaimana June menyatakan perasaannya pada Sabiru.